BORNEONEWS, Pangkalan Bun - Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (GAPKI) menyatakan penurunan produksi minyak sawit mentah (CPO) Indonesia sepanjang tahun lalu adalah akibat terseret angin panas atau El Nino yang menerpa Tanah Air pada 2015.

"Tahun lalu, ada berita baik dan buruk, buruknya di 2015 kita mengalami El Nino sehingga produksi menurun," kata Direktur Eksekutif GAPKI, Fadhil Hasan, kepada pers di Jakarta, Kamis (16/2/2017).

Berdasarkan data GAPKI, penurunan produksi CPO tahun lalu mempengaruhi produksi minyak kernel sawit atau Palm Kernel Oil (PKO), yakni stagnan di angka 3 juta ton sejak 2015.

Namun, penurunan produksi CPO berasal dari penurunan produksi CPO yang merosot 1 juta ton dari 32,5 juta ton pada 2015 menjadi 31,5 juta ton pada tahun lalu.

Imbasnya, volume ekspor perdagangan CPO dan turunannya merosot sekitar 5% tahun lalu dari 26,4 juta ton pada 2015 menjadi 25,1 juta ton pada 2016.

Nilai perdagangan ekspor industri sawit cukup kokoh karena ditopang oleh perbaikan harga CPO yang merangkak naik di pertengahan 2016. Tercatat, harga rata-rata CPO global sebesar US$557 per metrik ton di awal 2016, memasuki pertengahan tahun, rata-rata harga CPO global terkoreksi ke kisaran US$750 per metrik ton.

Perbaikan ini terus berlanjut hingga tutup tahun, dengan rata-rata harga CPO global menyentuh angka US$790 per metrik ton. Secara tahunan, harga rata-rata CPO global sepanjang tahun lalu sebesar US$700 per metrik ton atau membaik 14% bila dibandingkan dengan rata-rata harga CPO pada 2015, yakni US$614 per metrik ton. (NEDELYA RAMADHANI/m)