Pemilihan Kepala daerah serentak tahun 2017 telah usai. Tanpa terkecuali pencarian sosok pemimpin baru untuk Kabupaten Kotawaringin Barat. Sebuah pesta demokrasi masyarakat yang berhasil dilakukan dengan damai dan aman adalah prestasi besar yang harus diberikan standing applause dan penghormatan yang tiada duanya.
Sejatinya demokrasi sendiri adalah kebebasan yang berakar pada solidaritas, pilihan kerja dan kemampuan untuk berpartisipasi dalam tatanan sosial. Demokrasi yang baik akan menghasilkan manusia sejati. Maka tak salah jika seorang pemimpin yang mampu menjadi cahaya dalam kegelapan dan suara dalam kebisuan harus bisa hadir dalam kenyataan, sehingga mampu menciptakan demokrasi sesuai yang diharapkan.
Masyarakat Kotawaringin Barat telah memilih, menentukan masa depannya dan memastikan perubahannya di lima tahun yang akan datang. Pemimpin yang akan terpilih pun pasti akan siap selalu menjadi manis dalam kepahitan. Cita-cita masyarakat yang telah menumpuk selama ini adalah kenyataan yang belum bisa terselesaikan.
Kepentingan pribadi haruslah ditinggalkan. Suara-suara rintihan masyarakat haruslah menjadi gaung perubahan. Perbedaan yang menjadi awalan dari proses juga haruslah dikesampingkan. Permusuhan yang menjadi emosi sesaat haruslah ditiadakan. Persaudaraan dan cita untuk perubahan yang lebih maju adalah yang menjdi tujuan.
Hari ini proses yang begitu dewasa menjadi contoh bagi masyarakat Kobar dalam menentukan jati dirinya. Tanpa harus mencela dan mencaci, itulah harusnya kedewasaan masyarakat Kobar dan Indonesia yang kemudian dibangun saat ini. Dalam cita-cita Indonesia yang telah lama dirumuskan pada pembukaan UUD 1945 yaitu dengan mewujudkan negara yang bersatu, berdaulat, adil dan makmur.
Tanpa harus mengurangi makna dalam menentukan masa depan sebuah bangsa, maka sikap kebersamaan dengan bergotong royong adalah sebuah pencapaian yang harus dilakukan.
Berpihak kepada rakyat
Kompetisi harusnya bukan menjadi sebuah akhir menentukan perbedaan. Kompetisi haruslan menjadi awalan persatuan. Bagaiamanapun sebuah pencapaian harus dilakukan bersama-sama. Meninggalkan keegoisan dan meniadakan kebencian. Karena keyakinan dalam menentukan sebuah masa depan yang baru adalah dengan menumbuhkan Persaudaraan dalam perbedaan.
Merujuk Thomas Jefferson, mantan Presiden Amerika pada 1801 mengatakan jika prinsip demokrasi seharusnya "berpihak kepada rakyat, menaruh kepercayaan kepada mereka, menghargai dan memperhitungkan mereka sebagai orang yang jujur dan dapat dipercaya, meski bukan yang paling bijak, gudang kepentingan publik". Dengan kata lain rakyat seharusnya dapat memegang kendali bersama pemimpin yang bijak.
Sejatinya inilah yang menjadi pekerjaan rumah sekarang bagi setiap pemimpin yang ada dalam membangun dan bekerja untuk rakyat, tanpa meninggalkan kepentingan rakyat.
Angka penggangguran di Indonesia akhir-akhir ini terus meningkat tajam karena peluang kerja yang semakin berkurang dan keterampilan sumber daya manusia yang masih lemah, menjadi PR besar bagi bangsa Indonesia. Tanpa terkecuali di Kabupaten Kotawaringin Barat, yang sejak tahun 2015 memiliki pengangguran sebanyak 2.642 orang. Tahun 2016 jumlahnya semakin meningkat 2,2% (Sumber Borneonews). Hal inilah yang menjadi PR bersama saat ini bagaimana merumuskan sebuah gagasan untuk menciptakan sebuah lapangan pekerjaan untuk kesejahteraan masyarakat Kobar di masa yang akan datang.
Sekali lagi mari rangkul bersama-sama setiap harapan masyarakat, dan mari kita wujudkan kesejahteraan untuk anak cucu di masa yang akan datang sesuai semboyan kita bersama yaitu MARUNTING BATU AJI ( MENUJU KEJAYAAN).
Penulis: Muhammad Asary, Konsultan Personal Branding asal Kumai, alumnus Universitas Brawijaya Malang


