BORNEONEWS, Pangkalan Bun - Perdagangan minyak sawit pada Senin ini (20/2/2017) tampaknya masih diwarnai sentimen negatif dari pelemahan harga komoditas ini pada akhir pekan lalu yang menyentuh level terendah tiga bulan.

Futures minyak sawit untuk kontrak Mei di Bursa Malaysia Derivatives Exchange anjlok 2,4 persen menjadi 2.859 ringgit per ton pada akhir perdagangan.

Menurut pelaku pasar di Kuala Lumpur seperti dikutip Reuters akhir pekan lalu, tekanan terjadi karena ekspektasi meningkatnya produksi dan melambannya permintaan ekspor.

Sentimen negatif lain yang bisa mempengaruhi pergerakan harga minyak sawit hari ini adalah harga gandum dan jagung di bursa komoditas AS yang turun dalam dua sesi berturut-turut, Jumat (17/2/2017). Pelemahan terjadi setelah pelaku pasar melakukan aksi jual menyusul posisi jangka panjang memasuki libur akhir pekan dan berlanjut pada libur Senin ini.

Selain itu, pergerakan harga minyak mentah dunia yang menguat tipis akhir pekan lalu diperkirakan juga akan difaktorkan pelaku pasar di bursa komoditas awal pekan ini.

Harga minyak ditutup menguat tipis, Jumat, di tengah beragamnya sentimen yang beredar di pasar. Faktor penahan laju pergerakan harga adalah cadangan minyak mentah AS yang lebih besar dari perkiraan, sedangkan faktor pendukung adalah kabar yang menyebutkan OPEC akan mengkaji opsi untuk memperpanjang kesepakatan pemangkasan produksi selama enam bulan.

Minyak mentah West Texas Intermediate untuk kontrak Maret naik 4 sen, atau kurang dari 0,1%, menjadi $53,40 per barrel di New York Mercantile Exchange.

Dalam sepekan lalu, harga kontrak minyak WTI melemah sekitar 0,9%, yang merupakan penurunan mingguan pertama dalam tiga pekan, menurut data FactSet.

Sementara harga minyak mentah Brent untuk kontrak April menguat 16 sen, atau 0,3%, menjadi $55,81 per barrel di ICE Futures exchange, London, dan dalam sepekan turun sekitar 1,6%. (NEDELYA RAMADHANI/m)