BORNEONEWS, Pangkalan Bun - Tren pelemahan harga minyak sawit sejak medio pekan lalu, bisa saja terhenti atau minimal tertahan sehingga tidak jatuh terlalu dalam pada perdagangan Senin (20/2/2017).

Meski masih diwarnai sentimen negatif sejak akhir pekan lalu, seperti melemahnya harga minyak nabati pesaing sawit di pasar global dan pergerakan harga minyak dunia yang berada di kisaran sempit seiring dengan meningkatnya cadangan minyak mentah AS, namun ada secercah harapan harga minyak sawit awal pekan ini akan bangkit.

Faktor pendukung itu adalah tren melemahnya ringgit Malaysia terhadap dolar AS yang terjadi sejak akhir pekan lalu dan berlanjut hingga awal pekan ini. Menurut dealer yang dikutip The Star, Senin (20/2/2017), melemahnya ringgit terhadap greenback lebih karena rendahnya minat investor terhadap mata uang Malaysia ini.

Pada awal perdagangan Senin, ringgit diperdagangkan di level 4,4550/4600 terhadap dolar AS, dibandingkan penutupan Jumat di level 4,4510/4550 per dolar AS.

Ringgit diperkirakan bergerak antara 4,44-4,45 per dolar AS pekan ini, dengan sentimen dipengaruhi oleh kondisi ekonomi global, termasuk rencana reformasi pajak oleh Presiden AS Donald Trump.

Terhadap mayoritas mata uang dunia, ringgit juga diperdagangkan melemah. Pelemahan ringgit berdampak positif bagi harga minyak sawit yang berdenominasi ringgit, karena harga komoditas ini akan lebih kompetitif bagi pemegang mata uang asing.

Pada perdagangan Jumat (17/2/2017), futures minyak sawit untuk kontrak Mei di Bursa Malaysia Derivatives Exchange anjlok 2,4 persen menjadi 2.859 ringgit per ton menyusul ekspektasi meningkatnya produksi dan melambannya permintaan ekspor untuk sawit Malaysia.

Sementara itu, analis pasar Reuters untuk teknikal komoditas dan energi, Wang Tao, memperkirakan harga minyak sawit akan mencoba menguji level support 2.879 ringgit per ton pada perdagangan awal pekan ini setelah akhir pekan lalu merosot tajam ke level terendah tiga bulan.

Setelah itu, kata Wang Tao, harga minyak sawit akan 'berkelana' di atas level tersebut atau menanjak menuju level resistance 2.959 ringgit per ton. (NEDELYA RAMADHANI/m)