BORNEONEWS, Pangkalan Bun - Kabupaten Kotawaringin Barat (Kobar) saat ini kesulitan mencetak pelaku entepreneur muda bidang pertanian. Hal ini disebabkan adanya anggapan bahwa sektor pertanian identik dengan pekerjaan yang kotor, kumuh, dan kurang mempunyai prospek ekonomis tinggi.
Selain anggapan negatif tersebut, faktor lainnya adalah tidak adanya pembinaan dan pemberian wawasan terhadap kaum muda untuk menggeluti pertanian. "Parahnya selama ini juga tidak ada bukti konkret ada petani di Kobar yang berhasil dalam bidang pertanian terutama padi," kata Ketua Kontak Tani Nelayan Andalan Kabupaten Kobar, Syahrian, Selasa (21/2/2017).
Ia menjelaskan, walaupun ada pembinaan yang dilakukan terhadap kelompok tani yang dibentuk sasarannya tidak ada mencakup kaum muda. Sehingga perlu kiranya ada upaya dari semua pihak mengubah anggapan negatif tersebut.
Ia juga menekankan persoalan lain sehingga terjadi penurunan minat menggeluti sektor pertanian diakibatkan adanya fakta di lapangan terkait ketidakpastian pemasaran terhadap produk pertanian padi.
Dengan segala kendala yang dihadapi itulah maka solusi dari pengambil kebijakan harus diberikan yakni dengan memutus mata rantai pelaku pertanian dengan melakukan pembinaan terhadap pemuda untuk menjadi bagian dari pelaku pertanian.
Selain itu, dengan membentuk kelompok pemuda tani, di Kobar melalui inkubasi yang dilakukan sudah ada sekitar 30 orang yang sudah membentuk forum komunikasi pemuda tani, namun mereka tidak berkembang karena ada rasa bingung bagaimana melegalitas forum ini.
"Mereka bingung siapa yang akan mengesahkan dalam bentuk surat keputusan (SK) terhadap forum itu, jadi memang harus ada pemuda tani atau apapun itu namanya yang harus mendapat binaan dari stake holder," tegas Syahrian. (KOKO SULISTYO/B-5)








