BORNEONEWS, Palangka Raya - Pasi Intel Kodim 1016 Palangka Raya Kapten Inf Suradi mengatakan wawasan kebangsaan patut dikenalkan sejak dini supaya generasi penerus bangsa mampu mencintai negaranya secara utuh.
Dia menuturkan bela negara dimaknai dari kebhinekaan yang tidak membedakan suku, ras dan agama. Hal ini merupakan perjuangan para pahlawan yang mendirikan NKRI bersama seluruh rakyat Indonesia.
"Supaya para pelajar sadar pentingnya bela negara sehingga mampu mencintai negara secara utuh," ucap Suradi kepada Borneonews.co.id, Selasa (21/2/2017).
Poin penting ini pula yang disampaikan pada kegiatan PKK provinsi dan kota dengan pemberian materi bela negara di SMPN 4 Kalampangan, Sabtu (18/2/2017) kepada 50 pelajar.
Juga dihadiri Ny Habib Said Ismail istri Wakil Gubernur Kalteng, Ketua PKK Palangka Raya, Ny Riban Satia, Wakil Ketua PKK Kota Ny Mofit Saptono Subagio, Kepala SMPN 4 Kalampangan, Muhammdah Sirojudin, para dewan guru dan sejumlah pengurus PKK.
Dalam pidato Ketua PKK penggerak kota, arus globalisasi yang dapat berdampak pada pergaulan bebas menuntut orang tua dan guru untuk selalu intens dalam pengawasan pergaulan anak didik. Sehingga mereka terhindari dari perbuatan negatif, minum-minuman beralkohol, narkoba maupun perkelahian.
Di sisi lain, ancaman terpecahnya persatuan dan kesatuan karena pemahaman bela negara masih dangkal. Atas dasar itulah, PKK kota bersama provinsi melakukan program door to door ke sekolah untuk memberi masukan pentingnya bela negara dan wawasan kebangsaaan di sekolah.
Suradi melanjutkan, NKRI yang terbentang dari Sabang sampai Pulau Rote merupakan bangsa besar dari lima negara di dunia. Indonesia satunya. NKRI merdeka tahun 1945 dan secara syah bangsa Indonesia merupakan negara kepulauan dimana ada sekitar 17.000 lebih pulau yang ada di Indonesia.
Dia menambahkan, ancaman perpecahan bisa saja terjadi bila seluruh pemuda dan masyarakat tidak bersatu padu, menjaga keutuhan NKRI.
"Kondisi sekarang, banyak upaya agar negara kita pecah dengan masuknya kebudayaan, narkoba dan adanya perkembangan tekhnologi. Bila tidak dicermati maka akan menjadikan kita sebagai pemuda pemalas. Cenderung intans, menghasilkan produk pemuda yang tidak utuh dan tidak mampu bersaing diera globalisasi sekarang ini,"
"Totalitas siswa-siswi hanya belajar dan turut membela negara. Tidak ikut ikutan pergaulan yang tidak baik, seperti narkoba, miras dan perkelahian. Masa depan ada dipundak para siswa-siswi, jangan pernah takut, khawatir dan gagal. Terus belajar dan belajar, jaga sekolah. Jaga orang tua dan almamater sekolah sebagai wujud kecintaan kepada sekolah," tegasnya. (BUDI YULIANTO/B-6)
Dia menuturkan bela negara dimaknai dari kebhinekaan yang tidak membedakan suku, ras dan agama. Hal ini merupakan perjuangan para pahlawan yang mendirikan NKRI bersama seluruh rakyat Indonesia.
"Supaya para pelajar sadar pentingnya bela negara sehingga mampu mencintai negara secara utuh," ucap Suradi kepada Borneonews.co.id, Selasa (21/2/2017).
Poin penting ini pula yang disampaikan pada kegiatan PKK provinsi dan kota dengan pemberian materi bela negara di SMPN 4 Kalampangan, Sabtu (18/2/2017) kepada 50 pelajar.
Juga dihadiri Ny Habib Said Ismail istri Wakil Gubernur Kalteng, Ketua PKK Palangka Raya, Ny Riban Satia, Wakil Ketua PKK Kota Ny Mofit Saptono Subagio, Kepala SMPN 4 Kalampangan, Muhammdah Sirojudin, para dewan guru dan sejumlah pengurus PKK.
Dalam pidato Ketua PKK penggerak kota, arus globalisasi yang dapat berdampak pada pergaulan bebas menuntut orang tua dan guru untuk selalu intens dalam pengawasan pergaulan anak didik. Sehingga mereka terhindari dari perbuatan negatif, minum-minuman beralkohol, narkoba maupun perkelahian.
Di sisi lain, ancaman terpecahnya persatuan dan kesatuan karena pemahaman bela negara masih dangkal. Atas dasar itulah, PKK kota bersama provinsi melakukan program door to door ke sekolah untuk memberi masukan pentingnya bela negara dan wawasan kebangsaaan di sekolah.
Suradi melanjutkan, NKRI yang terbentang dari Sabang sampai Pulau Rote merupakan bangsa besar dari lima negara di dunia. Indonesia satunya. NKRI merdeka tahun 1945 dan secara syah bangsa Indonesia merupakan negara kepulauan dimana ada sekitar 17.000 lebih pulau yang ada di Indonesia.
Dia menambahkan, ancaman perpecahan bisa saja terjadi bila seluruh pemuda dan masyarakat tidak bersatu padu, menjaga keutuhan NKRI.
"Kondisi sekarang, banyak upaya agar negara kita pecah dengan masuknya kebudayaan, narkoba dan adanya perkembangan tekhnologi. Bila tidak dicermati maka akan menjadikan kita sebagai pemuda pemalas. Cenderung intans, menghasilkan produk pemuda yang tidak utuh dan tidak mampu bersaing diera globalisasi sekarang ini,"
"Totalitas siswa-siswi hanya belajar dan turut membela negara. Tidak ikut ikutan pergaulan yang tidak baik, seperti narkoba, miras dan perkelahian. Masa depan ada dipundak para siswa-siswi, jangan pernah takut, khawatir dan gagal. Terus belajar dan belajar, jaga sekolah. Jaga orang tua dan almamater sekolah sebagai wujud kecintaan kepada sekolah," tegasnya. (BUDI YULIANTO/B-6)








