BORNEONEWS, Pangkalan Bun - Di tengah ramainya sentimen negatif yang menekan harga minyak sawit saat ini, melemahnya ringgit Malaysia terhadap dolar AS diharapkan menjadi penopang penguatan harga komoditas ini, Selasa (21/2/2017).

Pada sesi pertama perdagangan Selasa, ringgit dibuka turun tipis terhadap dolar AS, menyusul ekspektasi bahwa US Federal Reserve akan segera menaikkan tingkat suku bunga acuannya.

Seperti dilaporkan The Star, pada pukul 09.00 waktu Malaysia, ringgit diperdagangkan di level 4,4570/4620 terhadap dolar AS, dari 4,4560/4600 pada perdagangan Senin (20/2/2017).

Tekanan yang dialami minyak sawit belakangan ini adalah berasal dari data yang menyebutkan menurunnya permintaan sawit di pasar global dan meningkatnya produksi minyak sawit, baik di Malaysia maupun Indonesia.

Futures minyak sawit untuk kontrak Mei, 1FCPOc3, di Bursa Malaysia Derivatives Exchange, Senin (20/2/2017), ditutup turun 1,1 persen menjadi 2.827 ringgit ($634,43) per ton. Adapun volume perdagangan tercatat sebanyak 72.604 lot.

Sentimen negatif juga datang dari bursa komoditas AS menyusul harga gandum dan jagung yang turun tajam selama dua sesi berturut-turut, Jumat (17/2/2017), setelah pelaku pasar melakukan likuidasi posisi kepemilikan jangka panjang mereka menjelang libur panjang akhir pekan dan President's Day. (NEDELYA RAMADHANI/m)