BORNEONEWS, Pangkalan Bun - Di tengah belum redanya tekanan terhadap harga minyak sawit dalam beberapa hari terakhir, masih ada peluang minyak nabati ini berbalik arah menuju level 2.914 ringgit per ton.

"Jika melihat pola pergerakannya, analisis proyeksi Fibonacci dan channel menurun, harga minyak sawit berpeluang berbalik arah menuju level RM2.914," kata analis pasar dari Reuters untuk teknikal komoditas dan energi, Wang Tao, seperti dilansir Reuters, Selasa (21/2/2017).

Analisis Wang Tao itu bisa saja terjadi jika pelaku pasar memfaktorkan penguatan nilai tukar dolar AS terhadap sebagian besar mata uang utama dunia. Indeks dolar AS, yang mengukur greenback terhadap enam mata uang utama, naik 0,45 persen menjadi 101,400 pada akhir perdagangan Selasa.

Selain itu, penguatan harga minyak yang cukup signifikan di pasar New York semalam, juga dapat menjadi katalis positif bagi harga komoditas lainnya, termasuk minyak sawit.

Minyak mentah West Texas Intermediate untuk kontrak April ditutup naik 55 sen, atau 1%, menjadi $54,33 per barrel. Sedangkan untuk kontrak Maret yang habis masa berlakunya pada Selasa, berakhir naik 66 sen, atau 1,2%, menjadi 54,06 per barrel.

Kenaikan harga minyak mentah ini didukung oleh pernyataan Sekjen OPEC Mohammad Sanusi Barkindo, yang menyebutkan efektivitas kesepakatan pemotongan produksi secara global sekitar 2%.

Sementara itu, pada perdagangan Selasa, futures minyak sawit untuk kontrak Mei, 1FCPOc3, di Bursa Malaysia Derivatives Exchange ditutup merosot 1,7 persen menjadi 2.782 ringgit ($624,4) per ton pada sesi pertama perdagangan. Pada awal perdagangan, harga minyak sawit sempat menyentuh level 2.777 ringgit, yang merupakan level terendah sejak 8 November. Volume perdagangan tercatat sebanyak 73.468 lot.

Tekanan terhadap minyak sawit dipicu oleh rilis data yang menyebutkan potensi kenaikan produksi pada semester kedua tahun ini dan melimpahnya minyak nabati pesaing sawit di pasar.

Produksi sawit Malaysia selama 1-20 Februari turun 0,8 persen menjadi 733.288 ton, dari 739.367 ton pada periode bulan sebelumnya, menurut data surveyor Intertek Testing Services. Sedangkan data dari Societe Generale de Surveillance menyebutkan ekspor selama periode tersebut meningkat 1,7 persen menjadi 745.564 ton, dari 733.002 ton pada 1-20 Januari. (NEDELYA RAMADHANI/m)