BORNEONEWS, Pangkalan Bun - Jika mengacu pada penguatan dolar AS terhadap mayoritas mata uang utama dunia, Selasa (21/2/2017), pelaku pasar sempat melihat harapan akan menguatnya harga minyak sawit yang terus terpukul dalam beberapa sesi terakhir.

Namun pada awal perdagangan Rabu (22/2/2017), mata uang Malaysia dibuka stagnan terhadap dolar AS, setelah pelaku pasar menantikan hasil pertemuan bank sentral AS, US Federal Reserve, kata seorang dealer di pasar uang Kuala Lumpur, seperti dikutip Bernama.

Pada pukul 9.00 waktu setempat, ringgit diperdagangkan di level 4,4555/4595 per dolar AS, dari hari sebelumnya di level 4,4555/4595.

Dealer tersebut juga mengatakan para pelaku pasar belum pasti apa yang akan diumumkan Ketua The Fed Janet Yellen terkait dengan tingkat suku bunga acuan.

Namun demikian, kata dealer tersebut, dengan menguatnya harga minyak mentah, para pelaku pasar di pasar keuangan Malaysia berharap hal itu sebagai sentimen positif bagi ringgit.

Minyak mentah West Texas Intermediate untuk kontrak April ditutup naik 55 sen, atau 1%, menjadi $54,33 per barrel. Sedangkan untuk kontrak Maret yang habis masa berlakunya pada Selasa, berakhir naik 66 sen, atau 1,2%, menjadi 54,06 per barrel. Sedangkan minyak mentah Brent ditutup di level US$56,66 per barrel, setelah naik 48 sen.

Futures minyak sawit untuk kontrak Mei, 1FCPOc3, di Bursa Malaysia Derivatives Exchange ditutup merosot 1,7 persen menjadi 2.782 ringgit ($624,4) per ton pada sesi pertama perdagangan Selasa. Pada awal perdagangan, harga minyak sawit sempat menyentuh level 2.777 ringgit, yang merupakan level terendah sejak 8 November. Volume perdagangan tercatat sebanyak 73.468 lot. (NEDELYA RAMADHANI/m)