BORNEONEWS, Palangka Raya - Meniru merupakan ciri khas anak-anak. Sehingga tugas orangtua untuk lebih cermat memilih dan memilah apa yang pantas diberikan kepada anak.

Hal itu diungkapkan Tenaga Psikolog di Palangka Raya, Cahaya Afriani Napitupulu menanggapi santernya pemberitaan terkait buku anak-anak bermuatan masturbasi beberapa hari belakangan.

"Mana yang salah dan benar, orang tua dan guru yang harus sadar fan cermat. Kalau anak-anak tidak bersalah, karena memang anak-anak ciri khasnya adalah meniru. Perkembangan otak mereka sangat pesat, jadi tugas orang tua, guru, sekolah, lingkungan untuk mengajarkan moral, mana yang salah dan benar," jelas Cahaya, Jumat (24/2/2017).

Menurut Magister Psikologi lulusan UGM ini, orangtua wajib mengerti tumbuh kembang anak untuk tau hal mana yang boleh diajarkan pada tahap usia tertentu.

"Pendidikan seks perlu, tapi itu diperlukan agar anak mengenal peran gendernya dan mengenal tubuhnya untuk mampu melindungi dirinya dari hal yang membahayakan diri dan tubuhnya," pungkas wanita yang menjadi dosen di salah satu kamous di Palangka Raya ini.

Tujuan dan motif dari penulisan buku bermuatan masturbasi ini menurut Cahaya belum diketahui. Meskipun penerbit telah merilis jawaban atas tersebarnya buku ini dengan alasan memang ditujukan untuk pemahaman bagi anak-anak sebagai pendidikan seks, namun wanita 29 tahun ini beranggapan tidak sepantasnya buku ini dibaca oleh anak-anak.

"Buku seperti ini banyak. Bahkan di LKS (Lembar Kerja Siswa) kadang terselip hal-hal yang tidak pantas sehingga harus orang tua dan gurulah yang bertindak cermat," tutupnya. (TESTI PRISCILLA/B-8)