BORNEONEWS, Pangkalan Bun - Apa yang dihasilkan Totok (32) sangatlah kreatif dan inovatif. Bersama kelompoknya sesama pembuat mainan anak-anak, ia berhasil menciptakan mainan excavator dengan sistem kerja hidrolik.

Miniatur alat berat yang didominasi warna kuning itu bahkan berhasil menghasilkan rupiah. Selain dijual, Totok dan rekannya juga mengumpulkan pundi-pundi keuangan dari hasil penyewaan barang buatan tangannya tersebut.

"Kalau dijual harganya sampai Rp6 juta. Dan Rp10 ribu untuk sewa per 15 menit," beber pemuda asal Kabupaten Demak, Jawa Tengah tersebut saat dibincangi Borneonews di Arena Car Free Day (CFD) Pangkalan Bun, Minggu (26/2/2017).

Mainan yang tengah digandrungi anak-anak itu langsung diserbu pengunjung acara bebas berkendara yang rutin digelar setiap Minggu pagi di Jalan Sutan Syahrir, Pangkalan Bun saat pertama kali Totok membuka lapaknya.

Seperti mengoperasikan excavator sungguhan, mainan itu digerakkan menggunakan dua tuas analog di sebelah kanan dan kiri. Tuas kendali dihubungkan menggunakan selang udara ke excavator. Fungsinya, tuas sebelah kiri arah maju untuk menurunkan lengan alat penggaruk.

Sementara, terang Totok, jika tuas sebelah kiri ditarik, alhasil lengan excavator akan bergerak ke arah atas sekaligus menggaruk tanah. Sedangkan tuas sebelah kanan berfungsi untuk menggerakkan lengan excavator ke arah kanan dan kiri.

"Ini semacam mainan edukasi untuk anak-anak. Fungsi tuas dibuat semirip mungkin dengan aslinya," bebernya.

Tidak hanya menggerakan lengan excavator, tuas analog juga berfungsi untuk menggerakkan alat berat berukuran mini itu maju, mundur, ke kanan dan ke kiri. "Mainan ini seperti simulasi sederhana mengoperasikan excavator," ucapnya.

Sekali membuka lapak, terang Totok, ia bisa membawa pulang uang sebesar Rp100 ribu hingga Rp200 ribu. Dalam sehari ia bisa berpindah lapak sampai tiga tempat. "Tergantung cuacanya mas, paling sering ke acara orang punya hajat," ujarnya.

Di lapak yang hanya menyediakan lima buah miniatur excavator itu, tampak dikerumuni pengunjung, mayoritas anak-anak. Bahkan, mereka rela mengantre untuk memainkan alat tersebut. (FAHRUDDIN FITRIYA/B-5)