BORNEONEWS, Pangkalan Bun - Dalam perjanjian perdagangan bilateral dengan sejumlah negara, Indonesia diuntungkan karena mencatat surplus perdagangan, termasuk dalam ekspor sawit ke Pakistan.

Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (GAPKI) meminta pemerintah membangun hubungan ekonomi yang adil (fair trade) dan bersifat bilateral dengan negara-negara yang memberikan surplus pada neraca perdagangan Indonesia, khususnya terhadap Pakistan.

"Jika fair trade tidak dilakukan, Indonesia bakal rugi hingga miliaran dolar AS. Pakistan adalah pasar ekspor sawit terbesar bagi Indonesia, baik crude palm oil (CPO) dan produk turunan lainnya, dan Pakistan telah berulangkali menyampaikan permintaan review terhadap Preferential Trade Agreement (PTA) dengan Indonesia," kata Ketua Umum GAPKI, Joko Supriyono, kepada pers di Jakarta, Selasa (28/2).

Permintaan review PTA, menurut Joko, dilancarkan Pakistan agar jeruk kino, kapas, beras brasmati, mangga, dan sejumlah hasil pertanian Pakistan bisa gampang masuk ke Indonesia.

"Wajar permintaan review PTA itu, sebab Indonesia justru menikmati surplus yang luar biasa bila berdagang dengan Pakistan. Kita itu surplus US$2,2 miliar dan US$1,8 miliar dihasilkan ekspor sawit dan seluruh produk turunannya, termasuk CPO, yang mencapai 2,1 juta ton per tahun," papar dia.

Sedangkan Pakistan, lanjut Joko, dari hasil menjual jeruk kino saja hanya untung US$20 juta per tahun. Kalau seluruh hasil pertanian Pakistan dimasukkan ke Indonesia, paling banter hasil yang didapat Pakistan adalah US$200 juta.

"Kami berharap ada perubahan strategi dagang dari pemerintah terhadap negara-negara yang menghasilkan surplus bagi Indonesia. Ekspor sawit Indonesia, bisa meningkat menjadi 3,5 juta ton per tahun karena konsumsi sawit dan turunannya di Pakistan 14 kilogram per orang per tahun," ujar Joko. (NEDELYA RAMADHANI/m)