BORNEONEWS, Sampit - Kebakaran hutan yang terjadi di Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim) rupanya berdampak terhadap keberlangsungan hidup satwa liar yang ada di daerah ini. Karena tidak sedikit hewan dilindungi tersebut, masuk ke perkebunan atau pemukiman warga hingga menimbulkan konflik di antaranya.

Dengan adanya hal tersebut, Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Pos Sampit bersama Manggala Akni Regu III gencar menyosialisasikan dan mengimbau masyarakat yang bermukim di lokasi rawan kebakaran hutan atau lahan agar tidak meburu satwa liar.

“Pemasangan plang berisikan larangan tidak melakukan perburuan atau pemeliharaan terhadap satwa liar juga kami lakukan. Seperti halnya di beberapa titik di Jl Jendral Sudirman, maupun di Desa Kandan Kecamatan Kota Besi, dan beberap lokasi lainnya yang banyak ditinggali satwa langka,” ujar Komandan BKSDA Sampit Muriansyah, Selasa (28/2/2017).

Muriansyah menerangkan, pengaruh kebakaran hutan terhadap keberlangsungan hidup satwa sangat besar. Sebab, terjadinya Karhutla kerap membuat satwa liar masuk ke perkebuhan dan pemukiman warga.

Masuknya satwa ke perkebunan atau pemukiman warga tersebut, sering kali menimbulkan terjadinya konflik antara warga dan satwa. Hingga membuat hewan dilindungi tersebut dilukai bahkan dibunuh.

“Kami tidak ingin warga melukai atau bahkan mebunuh satwa dilindungi,” kata Muriansyah.

Dengan adanya hal itu, Muriansyan mengimbau agar warga yang melihat atau menemukan satwa liar seperti orangutan, owa-owa, trenggiling, kukang, beruang, bekantan, dan beberapa satwa dilindungi lainnya segera melaporkannya kepada pihak berwajib, terutama BKSDA setempat. (MUHAMMAD HAMIM/B-5)