Mungkin terdengar aneh ketika kebahagiaan masyarakat diukur dengan angka. Hal ini sangat beralasan, mengingat kebahagiaan dapat dirasakan dan dipersepsikan berbeda oleh setiap individu. Beragam penelitianpun telah banyak dikaji dan dikembangkan untuk menjawab pertanyaan “bagaimana kebahagiaan bisa diukur atau bahkan dibandingkan?”

Adalah indeks kebahagiaan yang menunjukkan seberapa besar tingkat kebahagiaan suatu masyarakat. Indeks kebahagiaan disusun berdasarkan tingkat kepuasan terhadap 10 aspek kehidupan yang esensial, meliputi kesehatan, pendidikan, pekerjaan, pendapatan rumah tangga, keharmonisan keluarga, ketersediaan waktu luang, hubungan sosial, kondisi rumah dan aset, keadaan lingkungan dan kondisi keamanan.

Skala pengukurannya dari 0 hingga 100. Semakin tinggi nilai indeks menunjukkan tingkat kehidupan yang semakin bahagia. Sebaliknya, semakin rendah nilai indeks, maka penduduk semakin tidak bahagia. Di Indonesia, kewenangan pengukuran indeks kebahagiaan dilakukan oleh Badan Pusat Statistik (BPS) melalui Survei Pengukuran Tingkat Kebahagiaan (SPTK).

Di manakah Posisi Kalteng?

Ternyata, Kalimantan Tengah (Kalteng) merupakan provinsi ke-11 terbahagia dari seluruh provinsi, dengan indeks kebahagiaan sebesar 70,01. Angka ini sangat baik karena posisinya di atas rata-rata kebahagiaan penduduk Indonesia (68,28).

Berdasarkan indeks kebahagiaan, ternyata Kepulauan Riau dinilai sebagai yang tertinggi di Indonesia. Berikutnya dalam peringkat sepuluh besar, ada Maluku, Kalimantan Utara, Kalimantan Timur, Jambi, Sulawesi Utara, Daerah Istimewa Yogyakarta, Papua Barat, dan Kalimantan Selatan.

Tiga aspek kehidupan yang memiliki tingkat kepuasan tertinggi pada penduduk Kalteng adalah keharmonisan keluarga (82,36), kondisi keamanan (79,85), dan hubungan sosial (76,42). Hasil ini menyimpulkan bahwa keluarga harmonis cukup banyak dirasakan oleh sebagian besar penduduk Bumi Tambun Bungai.

Namun, terdapat hal yang mengejutkan, tingkat kepuasan penduduk Kalteng terhadap aspek pendidikan merupakan yang terendah dari seluruh aspek (60,69).

Pemerintah seharusnya dapat meningkatkan sistem dan fasilitas pendidikan yang telah dibangun agar lebih membahagiakan penduduknya. Sedangkan dua aspek terendah lainnya adalah pendapatan rumah tangga (65,54) serta kondisi perumahan dan aset (66,17).

Yang belum menikah lebih bahagia

Sementara dari aspek karakteristik demografi dan ekonomi, berdasarkan klasifikasi wilayah, orang yang hidup di kota (73,36) lebih bahagia dibandingkan dengan orang yang hidup di desa (68,31). Sedangkan dari jenis kelamin, perempuan sedikit lebih bahagia dibandingkan dengan mereka yang berjenis kelamin laki-laki (70,96 berbanding 69,92).

Temuan menarik lainnya, orang yang belum menikah merupakan yang paling bahagia (72,26) dan orang yang berstatus cerai hidup adalah yang paling tidak bahagia (64,40). Anda yang berada pada kelompok umur 17-24 sudah sepatutnya berbahagia karena inilah kelompok umur terbahagia.

Jika pendapatan Anda semakin tinggi dan membuat diri Anda lebih bahagia, hal tersebut wajar karena hasil SPTK menyimpulkan hasil yang serupa. Semakin tinggi tingkat pendidikan maka semakin bahagia. Mereka yang paling bahagia adalah rumah tangga yang beranggota 5 orang.

Karakteristik terakhir, posisi yang memberatkan dalam rumah tangga adalah kepala rumah tangga dengan indeks kebahagiaan sebesar 69,71 dibandingkan pasangan kepala rumah tangga yang besarnya 70,77.

Tahun ini, SPTK akan kembali dilaksanakan oleh BPS. Hasil survei tersebut sangat berguna untuk evaluasi pembangunan dan perbandingan tingkat kebahagiaan antar provinsi. Selain itu juga dapat menjawab pertanyaan “apakah Anda berada pada posisi yang paling bahagia?”

Penulis ANANTO WIBOWO, Staf Seksi Statistik Produksi BPS Kabupaten Kotawaringin Barat