BORNEONEWS, Sampit - Kepala Lembaga Kolaborasi Rotan Ramah Lingkungan Kalimantan Tengah (LKRRL-KL) Sarwepin Saal mengatakan, rotan merupakan kekayaan alam daerah yang sangat berpotensi dikembangkan.

“Selama ini masyarakat tidak begitu menggunakan produk lokal karena mereka tidak tahu, maka dari itu kita harus perkenalkan bahwa rotan merupakan produk unggulan,” tuturnya, di acara kerjasama sosial rekondisi meja belajar berbahan rotan di SMA 1 Sampit, Selasa (28/2/2017).

Menurut dia, Indonesia sendiri hanya ada tiga wilayah penghasil rotan, yaitu Sumatera, Sulawesi dan Kalimantan. Rotan yang memang hasil budidaya adalah rotan Kalimantan, selebihnya merupakan tanaman liar di hutan.

Yang lebih unggul lagi, 80% dari kebutuhan rotan dunia itu dipasok dari Indonesia. Selain itu budidaya rotan juga memiliki nilai tambah di samping nilai ekonomis. Seperti nilai sosial karena ketika membudidayakan rotan akan menyerap tenaga kerja untuk memanen, membersihkan dan lain sebagainya sehingga terbangun komunikasi sosial.

Rotan juga memiliki nilai budaya karena digunakan orang Dayak dalam acara adat dan keagamaan. Yang lebih penting lagi, rotan merupakan produk yang ramah lingkungan. Sebab dari proses memanen sampai pembuatan kerajinan rotan, hingga nantinya akan hancur menjadi tanah.

“Rotan ini proses panennya tidak merusak hutan, tidak menggunakan pestisida, kerajinannya tidak menggunakan bahan-bahan berbahaya, dan nanti pada saatnya akan hancur menjadi unsur hara di tanah,” ujar Sarwepin. (*/B-5)