BORNEONEWS, Pangkalan Bun - Nilai tukar ringgit Malaysia melanjutkan pelemahannya terhadap dolar AS pada pembukaan perdagangan Rabu (1/3/2017) seiring dengan tingginya minat terhadap mata uang AS.

Pelaku pasar banyak yang memburu dolar sebagai antisipasi pidato Presiden AS Donald Trump di hadapan Kongres pada Rabu waktu setempat terkait reformasi pajak dan belanja infrastruktur, kata dealer yang dikutip Reuters, Rabu.

Pada pukul 9.07 waktu Malaysia, ringgit diperdagangkan di level 4,4430/4500 per dolar, dari sebelumnya di level 4,4380/4420.

Melemahnya ringgit menjadi katalis positif bagi harga minyak sawit yang berdenominasi ringgit Malaysia, karena komoditas ini akan lebih murah bagi pemegang mata uang asing.

Sementara itu, futures minyak sawit di Bursa Malaysia Derivatives Exchange, Selasa (28/2/2017), ditutup naik tipis 0,6 persen menjadi 2.770 ringgit ($624) per ton. Volume perdagangan tercatat sebesar 80.222 lot.

Pada awal perdagangan, harga minyak sawit merosot ke level 2.723 ringgit, yang merupakan level terendah sejak 2 November. Dalam dua pekan terakhir, harga minyak sawit telah anjlok 8,6 persen seiring dengan meningkatnya produksi dan lemahnya permintaan ekspor.

Menurut pelaku pasar tersebut, pasar mengikuti penguatan harga minyak kedelai di Chicago Board of Trade dan kemungkinan dalam beberapa hari ke depan harga minyak sawit akan bergerak stagnan akibat minimnya sentimen positif.

Sementara itu, minyak kedelai di Chicago Board of Trade naik 0,4 persen, sedangkan harga minyak kedelai di Dalian Commodity Exchange turun 0,4 persen. Sedangkan olein sawit di Dalian Commodity Exchange melorot 0,8 persen. (NEDELYA RAMADHANI/m)