BORNEONEWS, Pangkalan Bun - Kedatangan Raja Arab Saudi Salman bin Abdulaziz al-Saud tidak akan berdampak signifikan terhadap kinerja ekspor sawit Indonesia.

"Kalau untuk ekspor, Arab Saudi bukan tujuan ekspor minyak sawit mentah atau crude palm oil (CPO). Selama ini, pemerintah lebih banyak ekspor ke Arab Saudi seperti makanan dan minuman, kalau untuk minyak masih kecil," kata Ketua Dewan Pengawas Badan Pengelola Dana Perkebunan (BPDP), Rusman Heriawan, kepada pers di Jakarta, Kamis (2/3/2017).

Arab Saudi merupakan salah satu mitra dagang potensial Indonesia di kawasan Timur Tengah. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), nilai total perdagangan nonmigas Indonesia dengan Arab Saudi periode 2011 hingga 2015 memperlihatkan pertumbuhan positif sebesar 3,89% per tahun.

Rata-rata nilai ekspor non migas Indonesia ke Arab Saudi pada periode 2011 hingga 2015 tercatat sebesar US$1,83 miliar per tahun. Sementara itu, rata-rata nilai impor non migas Indonesia dari Arab Saudi tercatat sebesar US$921,23 juta per tahun pada periode yang sama.

Sedangkan neraca perdagangan non migas kedua negara mengalami surplus 29,84% pada 2015. Sementara itu, produk ekspor utama Indonesia ke Arab Saudi pada 2015 adalah kendaraan bermotor, minyak kelapa sawit, tuna, karet dan produk karet, plywood, kertas dan produk kertas, bubur kertas, arang kayu, serta tekstil dan produk tekstil. (NEDELYA RAMADHANI/m)