BORNEONEWS, Pangkalan Bun - Pelaku pasar kemungkinan masih akan melanjutkan aksi beli dalam beberapa sesi ke depan seiring dengan tren positif menjelang konferensi industri sawit pekan depan.
Dalam konferensi yang akan digelar di Kuala Lumpur pekan depan, para pelaku industri kelapa sawit berharap analis terkemuka dapat memberikan proyeksi harga minyak sawit ke depan.
Harga minyak sawit diprediksi melemah pada saat ini hingga semester kedua 2017 seiring dengan meningkatnya produksi menyusul mulai hilangnya dampak dari serangan El Nino sejak 2015 lalu.
Dengan menguatnya harga minyak sawit dalam tiga sesi terakhir, analis pasar dari Reuters untuk teknikal komoditas dan energi, Wang Tao, mengatakan bahwa harga akan melaju ke level resistance berikutnya.
"Harga minyak sawit bisa menanjak ke level resistance 2.880 ringgit per ton setelah berhasil tembus di atas level resistance sebelumnya di 2.820 ringgit," kata Wang Tao seperti dilansir Reuters, Jumat (3/3/2017).
Futures minyak sawit untuk kontrak Mei di Bursa Malaysia Derivatives Exchange menanjak 1,1 persen menjadi 2.862 ringgit ($643,58) per ton pada akhir perdagangan Kamis. Sebelum penutupan, harga minyak sawit sempat melaju ke level 2.864 ringgit, yang merupakan level tertinggi sejak 20 Februari. Tercatat volume perdagangan sebanyak 48.921 lot.
"Ada spread yang lebar antara minyak sawit dengan minyak nabati pesaing sawit," kata seorang pelaku pasar di Kuala Lumpur, mengacu pada perbedaan harga antara minyak sawit dan minyak kedelai.
Untuk minyak nabati pesaing minyak sawit, yakni minyak kedelai di Chicago Board of Trade anjlok 1,1 persen, sedangkan minyak kedelai kontrak Mei di Dalian Commodity Exchange naik 0,5 persen. Untuk olein sawit kontrak Mei di Dalian Commodity Exchange menguat 0,2 persen. (NEDELYA RAMADHANI/m)








