BORNEONEWS, Pangkalan Bun - Perusahaan tranportasi Malaysia mendesak pemerintah negeri jiran itu untuk mempertimbangkan kembali penerapan wajib program pemakaian bahan bakar biodiesel.
Association of Malaysian Hauliers (AMH), seperti dilansir The Malaysian, Kamis (2/3/2017), mengatakan anggota asosiasi perusahaan transportasi itu mengaku berat jika diwajibkan menggunakan biodiesel untuk saat ini karena harganya akan mahal.
Menurut AMH, pihaknya saat merasa seperti terjebak di tengah ketidakpastian jadwal penerapan program B10 (program pemakaian bahan bakar campuran 10 palm methyl ester dan 90 diesel).
Program B10, yang salah satunya ditujukan untuk mengurangi timbunan cadangan minyak sawit yang melimpah dan merosotnya harga komoditas tersebut, hingga saat ini masih ditunda penerapannya karena harga minyak sawit masih tinggi.
Presiden AMH, Nazari Akhbar, mengatakan bahwa tak sehat jika satu industri dipaksa untuk menerima biaya tinggi hanya demi melindungi sektor industri yang lain.
Saat ini sejumlah stasiun pengisian bahan bakar baru menyediakan pompa bahan bakar untuk biodiesel B7, artinya campuran sawit lebih rendah dari B10.
“Sebelumnya, ketika harga minyak sawit rendah, pemerintah mendesak untuk mewajibkan B10. Tapi sekarang harga sudah naik, makanya program tersebut ditunda,” katanya. (NEDELYA RAMADHANI/m)








