BORNEONEWS, Sampit - Memasuki musim penghujan dalam beberapa pekan terakhir di Kota Sampit, Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim) membuat penjualan tempe di daerah ini menurun.

"Turunnya sampai 30 persen kalau musim hujan, karena banyak warga yang mengurungkan niatnya pergi ke pasar," ujar Ahmad Nahroji, salah seorang pengusaha tempe di Desa Pelangsian, Kecamatan Mentawa Baru Ketapang, Kotim, Sabtu (4/3/2017).

Penurunan tersebut membuat tempe yang diproduksinya semakin berkurang. Biasanya 140 buah tempe laku dalam dua hari, namun kalau musim penghujan seperti saat ini, tempe baru habis dalam waktu tiga hari.

Hal itu berbanding terbalik pada saat musim panas. Tempe 140 buah yang mereka produksi bisa habis dalam dua hari saja. "Kalau musim kemarau permintaan cukup tinggi, dan itu cukup membantu perekonomian," jelas Ahmad.

Untuk tempe yang diproduksinya tersebut dipasarkan di dalam kota saja, yakni di sejumlah pasar seperti Pasar Mangkikit, Pasar Sejumput, dan warga desa sekitar. Sedangkan dalam pengolahan tempe tersebut, dirinya membutuhkan 1 kuintal atau 100 kilogram kedelai dalam sehari. Dengan harga tempe Rp4.000 per bungkus. (MUHAMMAD HAMIM/B-2)