BORNEONEWS, Pangkalan Bun - Ratusan warga di Kelurahan Pangkut, Kecamatan Arut utara (Aruta) nekat bertahan di rumahnya, meski banjir sudah merendam hampir dua pekan lamanya. Mereka membangun meja dari batang kayu untuk dijadikan alas tidur.
"Mau ngungsi kemana belum ada tempatnya," kata Porkab (43), salah seorang korban banjir di RT 2 Kelurahan Pangkut yang rumahnya sudah kemasukan setinggi 80 centimeter.
Seluruh barang berharga ia pindahkan ke tempat yang lebih tinggi dan tidak terjangkau air. "Cuma lemari saja yang sudah rusak, karena susah mau dipindahkan kemana," akunya.
Ia bersama istri dan dua anaknya terpaksa menggunakan meja berukuran 6x2 meter setinggi 1 meter untuk beristirahat. Lantai rumahnya sudah tidak ada yang tersisa karena rendaman air sungai itu.
Tak jauh dari rumah Porkab, Nurasiah ibu rumah tangga yang mengaku memiliki empat anak juga terpaksa harus membuat meja untuk menyelamatkan barang-barang berharganya. "Kasur, pakaian, sampai barang elektronik ditaruh di sini. Tidur juga di sini," kata dia sambil menunjuk meja setinggi 1 meter lebih di rumahnya.
Sebagian warga yang sudah tidak bertahan lagi di rumahnya terpaksa harus pindah ke tempat sanak saudaranya yang tidak terendam banjir. "Rumah saya sudah tinggal atapnya, tidak bisa ditempati lagi. Saya sudah ngungsi ke rumah anak saya," ungkap Reno, warga RT 3 kelurahan Pangkut.
Pemkab Kotawaringin Barat sudah membangun posko banjir di kantor Kecamatan Aruta. Namun sejauh ini, posko tersebut belum digunakan untuk tempat pengungsian warga. "Kita akan terus kordinasi dengan pihak desa atau kelurahan untuk menyiapkan tempat pengungsian yang layak seperti di kantor desa," ucap Kepala BPBD Kobar, Hermon F Lion. (CECEP HERDI/B-10)








