BORNEONEWS, Pangkalan Bun - Selain sentimen penguatan harga komoditas pangan di AS akhir pekan lalu, potensi penguatan harga minyak sawit pada perdagangan Senin (6/3/2017) juga ditopang faktor nilai tukar ringgit Malaysia.

Pada awal perdagangan Senin, nilai tukar ringgit melemah terhadap dolar AS seiring meningkatnya ekspektasi Federal Reserve akan menaikkan tingkat suku bunga acuannya bulan ini.

Pukul 9.08 waktu Malaysia, ringgit diperdagangkan di level 4,4550/4590 terhadap dolar AS, dari level sebelumnya di 4,4520/4570 per dolar.

Seorang dealer yang dikutip The Star, mengatakan Federal Reserve mengindikasikan kenaikan suku bunga bulan ini dalam pertemuan yang digelar pada 14-15 Maret mendatang. Hal itu langsung mendorong pembelian dolar AS oleh pelaku pasar.

Terhadap mata uang utama dunia lainnya, ringgit juga bergerak melemah, seperti terhadap dolar Singapura yang turun menjadi 3,1582/1633 dari 3,1470/1523, dan terhadap yen melemah menjadi 3,9158/9210 dari 3,8960/8018.

Melemahnya ringgit memberikan dukungan bagi penguatan harga minyak sawit yang berdenominasi ringgit, karena komoditas ini akan lebih murah bagi pemegang mata uang selain ringgit.

Pada perdagangan Jumat (3/3/2017), futures minyak sawit untuk kontrak Mei di Bursa Malaysia Derivatives Exchange naik 0,03 persen menjadi 2.863 ringgit ($643,08) per ton. Untuk volume perdagangan dalam perdagangan akhir pekan ini tercatat sebanyak 40.918 lot. (NEDELYA/RAMADHANI/m)