BORNEONEWS, Pangkalan Bun - Sempat 'bernapas lega' setelah mulai terlepas dari dampak El Nino, kini industri kelapa sawit kembali dihantui fenomena iklim itu akan kembali melanda tahun ini.

Sejumlah observasi yang dilakukan baru-baru ini menyebutkan bahwa kemungkinan serangan El Nino pada 2017 telah meningkat menjadi sekitar 50 persen, berdasarkan data Bureau of Meteorology Australia yang dirilis pada 28 Februari lalu. Sedangkan Meteorological Department Malaysia menyatakan pada 20 Februari bahwa kemungkinan El Nino kembali menyerang paling cepat pada Maret hingga Mei.

Jika El Nino terjadi pada semester kedua tahun ini, dampaknya terhadap tandan buah segar sawit akan terasa enam hingga sembilan bulan kemudian, dan itu itu akan mempengaruhi produksi pada 2018, kata analis dari RaboResearch Food & Agribusiness di Singapura, Oscar Tjakra, seperti dikutip The Star, Senin (6/3/2017).

“Itu tergantung pada seberapa kuat serangan El Nino,” imbuh Franki Anthony Dass, direktor pelaksana bidang perkebunan di Sime Darby Bhd.

“Jika El Nino muncul dan fenomena iklim itu mempengaruhi produksi, maka harga minyak sawit akan menguat,” kata Dass kepada Bloomberg di Kuala Lumpur beberapa waktu lalu.

Beberapa risiko kenaikan harga lainnya bagi minyak sawit termasuk musim hujan di India tahun ini yang dapat mengganggu produksi minyak kanola dan meningkatkan impor minyak nabati hingga akhir tahun, ujar Aurelia Britsch, kepala analis komoditas di BMI Research di Singapura. India adalah salah satu pengimpor minyak sawit terbesar dunia.

“Cuaca tak mendukung di kawasan Amerika juga dapat mengganggu panen kedelai dan dapat mendongkrak harga minyak sawit,” katanya.

Futures minyak sawit di Kuala Lumpur ditutup di level 2.863 ringgit ($643) per metrik ton, Jumat (3/3/2017). (NEDELYA RAMADHANI/m)