BORNEONEWS, Pangkalan Bun - Saat ini para pemain di industri kelapa sawit tengah memantau perkembangan kebijakan Presiden AS Donald Trump terkait penerapan program wajib pemakaian biodiesel.

Program biodiesel di AS itu berpotensi menjadi pendorong kenaikan harga minyak kedelai, kata Direktur Godrej International, Dorab Mistry, seperti dikutip Bloomberg, Senin (6/3/2017).

Sebagai minyak nabati pesaing sawit, kenaikan harga minyak kedelai itu juga bakal mendongkrak harga minyak sawit, imbuh Mistry.

Futures minyak sawit di Malaysia melonjak pada 1 Maret lalu setelah Trump disebut-sebut akan meluncurkan program penggunaan bahan bakar terbarukan yang sesuai kebijakan federal.

“Jika keputusan pemerintahan Trump terkait Renewable Fuel Standard mendukung kewajiban pemakaian biodiesel berbasis minyak kedelai, hal itu akan meningkatkan permintaan minyak kedelai di pasar domestik. Kondisi ini juga akan mendukung kenaikan harga minyak sawit," kata analis RaboResearch Food & Agribusiness di Singapura, Oscar Tjakra.

Pada perdagangan Jumat (3/3/2017), futures minyak sawit untuk kontrak Mei di Bursa Malaysia Derivatives Exchange naik 0,03 persen menjadi 2.863 ringgit ($643,08) per ton. Untuk volume perdagangan dalam perdagangan akhir pekan ini tercatat sebanyak 40.918 lot.

Faktor lain yang dapat menggerakkan harga minyak sawit menuju area positif adalah kinerja positif komoditas pangan di bursa AS akhir pekan lalu. Harga jagung, kedelai dan gandum ditutup naik tipis. (NEDELYA RAMADHANI/m)