BORNEONEWS Sampit - Akibat bencana banjir yang melanda Desa Hanjalipan, Kecamatan Kota Besi, Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim), membuat aktivitas perekonomian masyarakat di desa tersebut terganggu.

“Banjir tersebut juga menggnggu aktivitas ekonomi masyarakat sekitar,” ujar Kepala Bidang (Kabid) Kedaruratan dan Logistik Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kotim Sutoyo, Senin (6/3/2017).

Banyak warga sekitar yang sehari-harinya berkebun, baik itu menyadap karet, maupun bertani tidak dapat beraktivitas. Sehingga terpaksa mereka berdiam diri dirumah, dengan keadaan digenangi air.

“Banyak dari mereka yang meliburkan diri untuk bekerja, karena bencana banjir tersebut,” lanjut Sutoyo.

Selain mengganggu ekonomi warga, bencana banjir tersebut juga membuat Sekolah Dasar (SD) di desa itu diliburkan, sejak Sabtu (4/3/2017) kemarin.

Hal itu dikarenakan halaman SDN I Desa Hanjalipan ketinggian air yang menggenangi halaman mencapai 1 meter. Sedangkan di dalam ruangan kelas juga dimasuki air sekitar 1 cm.

Belum diketahui hingga kapan sekolah tersebut diliburkan, namun kemungkinan besar hingga banjir sudah surut.

Sementara, banjir tersebut sedikitnya menggenangi 107 buah rumah di empat rukun tetangga (RT) desa tersebut. Yakni RT I ada 40 buah rumah yang terendam, RT II 10 buah, RT III 20 buah, dan RT IV 37 rumah.

Dalam musibah banjir tersebut, ketinggian air dari jalan mencapi 100 cm hingga 130 cm. Bahkan hampir seluruh rumah yang terendam tersebut air sudah dimasuki air, yang tingginya mencapai 40 cm hingga 55 cm.

Adanya banjir tersbeut juga membuat jalan sekitar 1,5 Km di desa tersebut terendam. Hal itupun membuat aktivitas warga sekitar terhambat. Bahkan banyak warga yang tidak dapat bekerja, akibat musibah tersebut.

Warga sekitar yang ingin keluar rumah, terpaksa menggunakan kelotok yang mereka miliki. Karena tidak ada sedikitpun jalan yang tidak digenangi air. (MUHAMMAD HAMIM/B-5)