BORNEONEWS, Pangkalan Bun - Gairah beli atas minyak sawit diperkirakan masih akan terjadi pada perdagangan Selasa (7/3/2017) di bursa komoditas Malaysia setelah sesi sebelumnya harga komoditas ini menyentuh level tertinggi dua pekan.
Pasar masih memfaktorkan penguatan harga minyak nabati pesaing sawit, terutama minyak kedelai, di pasar AS dalam beberapa sesi terakhir menyusul kabar yang menyatakan Presiden AS Donald Trump akan mewajibkan pemakaian biofuel berbasis minyak kedelai, yang mendorong tingginya permintaan minyak kedelai di pasar, kata pelaku pasar di Kuala Lumpur yang dikutip Reuters, Selasa.
"Selain itu, pasar juga mempertimbangkan proyeksi penurunan produksi sawit," katanya.
Futures minyak sawit untuk kontrak Mei di Bursa Malaysia Derivatives Exchange naik 1,1 persen menjadi 2.893 ringgit ($650) per ton pada akhir perdagangan Senin. Sebelum penutupan, harga minyak sawit sempat menyentuh level 2.898 ringgit, level tertinggi sejak 17 Februari, dan telah menguat 4,4 persen sejak awal bulan ini.
Sementara itu di Chicago Board of Trade, harga gandum menguat 1,2 persen, Senin, dan menyentuh level tertinggi sejak medio Februari karena pasar memfaktorkan kondisi kering akan mempengaruhi tanaman gandum di AS. Harga minyak kedelai juga mengalami tren penguatan berkat ekspektasi program Trump terkait biofuel.
Tak hanya di AS, di bursa komoditas Tiongkok, harga minyak kedelai juga bergerak naik. Kondisi ini jelas menjadi sentimen positif bagi minyak sawit, yang notabene adalah minyak nabati yang menjadi rival di pasar global.
Selanjutnya, faktor yang tak boleh dilupakan adalah kondisi perdagangan di pasar minyak mentah, baik di New York maupun London.
Harga minyak mentah ditutup turun tipis, Senin (6/3/2017), setelah proyeksi perlambatan pertumbuhan ekonomi Tiongkok memicu kekhawatiran atas permintaan minyak.
Selain itu, peningkatan produksi minyak mentah AS juga turut memberikan tekanan ke pasar seiring dengan meningkatnya kecemasan terhadap tingginya pasokan.
Minyak mentah West Texas Intermediate untuk kontrak April turun 13 sen, atau 0,2%, menjadi $53,20 per barrel di New York Mercantile Exchange.
Namun demikian, minyak mentah Brent untuk kontrak Mei menguat 11 sen, atau 0,2%, menjadi $56,01 per barrel.
Sedangkan di pasar Asia, Selasa, harga minyak mentah acuan AS melemah setelah International Energy Agency (IEA) memperkirakan produksi minyak AS akan meningkat sekitar 1,4 juta barrel per hari hingga 2022. (NEDELYA RAMADHANI/m)








