BORNEONEWS, Pangkalan Bun - Produksi minyak sawit dunia diprediksi meningkat 11 persen menjadi 65 juta ton tahun ini dari 58,3 juta ton setahun lalu seiring dengan membaiknya cuaca.

"Kami melihat cuaca akan membaik sejak Oktober, akan cukup curah hujan untuk meningkatkan produktivitas di Malaysia dan Indonesia," kata M.R. Chandran, seorang mantan tokoh di industri sawit yang kini beralih menjadi konsultan.

"Normalnya Februari dan Maret adalah bulan-bulan kering, tapi saat itu akan turun hujan yang cukup," katanya seperti dikutip Reuters, Selasa (7/3//2017).

Indonesia dan Malaysia saat ini menyumbang sekitar 80 persen produksi minyak sawit global, yang dipakai untuk berbagai produk, mulai dari kue, sabun hingga biofuel.

Dengan meningkatnya produksi dan melambatnya permintaan dari sejumlah negara pengimpor minyak sawit utama, menurut dia, akan memberikan tekanan bagi harga minyak sawit.

Sementara itu, impor minyak nabati yang pernah tinggi oleh India, diprediksi akan mulai menurun atau stagnan hingga Oktober 2017, sehingga gagal untuk mencatat pertumbuhan untuk kali pertama dalam enam tahun terakhir. Hal itu dipengaruhi oleh melimpahnya produksi minyak nabati di pasar domestik yang membanjiri pasar.

Sedangkan Indonesia diprediksi akan memproduksi 34,8 juta ton minyak sawit mentah pada 2017, naik dari 31,8 juta ton pada tahun lalu, ketika kekeringan akibat El Nino mengganggu produksi, kata Chandran di sela acara konferensi sawit di Kuala Lumpur, Malaysia.

Malaysia diestimasi menghasilkan 20 juta ton minyak sawit tahun ini, dibandingkan 17,3 juta ton pada 2016. (NEDELYA RAMADHANI/m)