BORNEONEWS, Palangka Raya - Dua nenek, Aminah alias Mama Jailani dan Siti Aisyah, kompak tinggal di rumah tak layak huni.Dua mantan guru ngaji itu, menghuni sebuah pondok kayu, yang terbangun di atas rawa-rawa, di Jalan Pelatuk, Kota Palangka Raya ini. Tak ada anak-cucu, atau keluarga yang menemani dua perempuan berusia lanjut (lansia). Kedua perempuan yang sama-sama nyaris berusia seabad itu, kini hidup dari belas kasih orang.

Data yang dihimpun Palangka Post, kedua lansia itu, sudah bertahun-tahun tinggal di pondok kecil, dan reot itu. Keduanya mengaku, korban kebakaran di depan Kantor Dinas Pekerjaan Umum Provinsi Kalimantan Tengah, beberapa tahun silam. Di rumah lama mereka, bersama-sama pernah mengajar agama/guru ngaji anak-anak di sekitar tempat tinggal mereka dahulu.

"Di sini kami numpang sama orang. Rumah saya dulu kebakaran cu (cucu). Di depan kantor PU. Anak semua tinggal di daerah lain," ujar Siti Aisyah terbata-bata, kepada wartawan, di pondoknya, Selasa (7/3/2017).

Siti Aisyah mengaku, suaminya sudah lama meninggal dunia, sejak tahun 1982. Dari perkawinan itu, dia telah dikaruniai anak yang masing-masing bernama Masrani, Naimi, Hamilin, Alihan, zulkipli dan Afransyah. Kehidupan sehari-hari pun atas pemberian tetangga, jika ada.

"Sudah makan ini cu, tadi buat wadai (kue). Dulu saya guru ngaji di Mendawai. Sampai sekarang belum ada pemerintah yang kemari. Saya jalan menggunakan tongkat, ini saja sudah rusak," tuturnya, sembari mengusap air mata.

Sementara itu, Aminah mengatakan, kehidupannya hanya tidur di atas kasur. Untuk makan dirinya sama seperti yang dimakan oleh Siti Aisyah. Dirinya mempunyai dua anak yang masih hidup yaitu Jailani dan Ijai.

"Anak udah lawas meninggal, yang dua masih utuh. Kalau yang meninggal udah lupa. Suami juga lupa namanya, sudah meninggal juga. Anak tiap malam kemari. Saya pernah jadi guru ngaji juga dulu," kata nenek kelahiran Semanggi, Banjarmasin, Kalimantan Selatan itu. (Bella Rhomadani/PPOST/N).