BORNEONEWS, Pangkalan Bun - Penerapan program biodiesel B20 oleh pemerintah Indonesia mendapat acungan jempol dari pakar industri sawit terkemuka, U.R. Unnithan.

Unnithan mengatakan Indonesia telah mengambil langkah cerdas dengan segera menerapkan program biodiesel, yang dalam penerapannya bisa mendapatkan subsidi.

“Saya pikir ini sebagai langkah cerdas karena dilakukan dengan cepat dan mendorong peningkatan permintaan minyak sawit hingga tiga juta ton per tahun. Pasar biodiesel Indonesia mungkin sebesar China, dan itu bagus karena harga minyak mentah sekarang sekitar US$50 per barrel,” katanya seperti dikutip The Star.

Di sisi lain, Malaysia harus menerapkan program biodiesel B10 tahun ini di saat harga minyak sawit sedang tinggi dibandingkan tahun lalu.

“Harga CPO saat ini berkisar di level RM2.500 hingga RM2.600 per ton akan bertahan untuk jangka panjang baik untuk makanan dan bahan bakar. Pada level tersebut, orang bisa melihat kenaikan stabil untuk biodiesel sebab penambahan permintaan bisa dilakukan jika ada tambahan pasokan di pasar,” cetus Unnithan.

Sementara itu, pakar sawit kondang yang juga chairman LMC International Ltd, James Fry, menilai program biodiesel B20 Indonesia mengesankan, terutama karena program itu tak butuh pendanaan asing dan tak butuh subsidi pemerintah, dan bea keluar CPO yang ditetapkan sebesar US$50 per ton bisa mendongkrak harga lebih dari US$50.

Ke depan, Fry merasa program biodiesel Indonesia akan menjadi faktor terpenting dalam menjaga penurunan harga CPO pada akhir tahun ini. (NEDELYA RAMADHANI/m)