BORNEONEWS, Pangkalan Bun - Banjir yang merendam kecamatan Arut Utara dan Kotawaringin Lama membuat pemerintah keteteran. Kondisi warga korban banjir kian memprihatinkan, rumah-runah warga terus terendam hari demi hari akibat sungai Arut dan sungai Lamandau yang terus meluap.
Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kotawaringin Barat mencatat 739 rumah kepala keluarga tenggelam dan terendam banjir. Bahkan, akibat bencana tersebut sejumlah sektor seperti ekonomi, kesehatan dan pendidikan terganggu.
Salah seorang warga Kelurahan Pangkut, Kecamatan Aruta, Kisran mengatakan bencana banjir parah yang merendam hampir seluruh wilayah di Aruta baru terjadi tahun terakhir. “Sebelumnya, tidak pernah separah dan selama ini sampai dua minggu lamanya, bahkan hari demi hari debit airnya terus meningkat,” ujarnya.
Banjir jika disebabkan curah hujan yang tinggi, itu tidak masuk akal. Pasalnya, pada tahun lalu, banjir hanya sekali dalam setahun terjadi di daerahnya. Namun, saat ini terhitung telah dua kali banjir merendam di Bulan Januari dan saat ini Februari-Maret 2017. “Pemerintah harus menelusuri permasalahannya, jangan langsung beranggapan ini faktor alam."
Senada, Sekdes Sukarami, Refiandi menegaskan, banjir yang kini merendam wilayahnya sudah dua kali terjadi dan banjir tahun ini yang paling parah. Ia menjelaskan, jika tahun-tahun sebelumnya tidak pernah separah ini, sampai sumur sumber air minum warga terendam.
Bahkan, fasilitas seperti pustu dan sekolah pun sampai terendam, sehingga siswa diliburkan dan warga tidak bisa bekerja karena kebun mereka terendam dan tidak berani meninggalkan rumah. “Kasihan warga di sini, bantuan pun didapatkan dari pemerintah baru-baru ini saja. Kami ini seperti dianaktirikan. Listrim juga belum ada,,” ujarnya.
Ia merasa aneh dengan kondisi banjir tahun ini. Debit air begitu cepat naik, 10 centimeter perjam. “Pasti ada penyebab lain, mungkin akibat hutan gundul, sehingga air hujan tidak ada yang menyerap,” ujarnya. (CECEP HERDI/B-10)








