BORNEONEWS, Pangkalan Bun - Gabungan Industri Minyak Nabati Indonesia (GIMNI) menilai, pelaku industri minyak sawit mentah (CPO) asal Tiongkok mulai menyadari besarnya potensi pasar CPO di negara mereka sendiri.
"Apabila kelas menengah di Tiongkok tumbuh sekitar 2%, maka diprediksikan mereka akan mencari tambahan CPO sekitar 3 juta ton. Makanya, jika investor asal Tiongkok berminat investasi di Indonesia, sebenarnya cukup bagus bagi Indonesia," kata Direktur Eksekutif GIMNI, Sahat Sinaga, kepada pers di Jakarta, Kamis (9/3).
Meski secara volume ekspor masih di bawah Uni Eropa yang rata-rata menyerap 4,5 juta CPO Indonesia per tahun, menurut Sahat, pasar ekspor Tiongkok lebih menarik ketimbang Uni Eropa.
"Pasar Tiongkok tidak terlalu banyak aturan dan tuntutan soal standardisasi, sehingga potensi peningkatannya cukup besar. Hanya pertumbuhan ekonomi di Tiongkok yang menghambat pembelian CPO lebih besar dari tahun sebelumnya," papar dia.
Sedangkan pengamat perkebunan, Gamal Nasir, menyebut ada ketertarikan Tiongkok pada bisnis kelapa sawit di Indonesia. Namun, hal ini tak kunjung terealisasi karena sejumlah faktor.
"Masalah lahan masih menjadi kendala investasi CPO di Indonesia, batas maksimal kepemilikan lahan kelapa sawit sebanyak 100.000 hektare (ha) per perusahaan sempat membuat investor asal Tiongkok berpikir ulang untuk berinvestasi. Apalagi, sejak tahun lalu Presiden Joko Widodo menetapkan moratorium perkebunan sawit," ujar Gamal.
Gamal menambahkan, faktor lainnya adalah pekerja asing, dalam setiap investasinya, Tiongkok kerap mensyaratkan peluang bagi warga negaranya bekerja di negara tujuan investasi.
"Hal ini yang perlu diwaspadai pemerintah jika Tiongkok jadi investasi," pungkasnya. (NEDELYA RAMADHANI/m)








