BORNEONEWS, Pangkalan Bun - Pemerintah melalui Kementerian Perindustrian telah mengarahkan pertumbuhan industri pengolahan minyak sawit untuk menghasilkan aneka produk hilir canggih.
Produk minyak sawit olahan itu meliputi super edible oil, golden nutrition, bio plastic, bio surfactant, hingga green fuel.
Dalam jangka menengah, diprioritaskan upaya peningkatan investasi industri pengolahan sawit untuk mengantisipasi pertumbuhan jumlah produksi bahan baku yang diharapkan mencapai 40 juta ton CPO pada 2020.
Minyak sawit nasional berpotensi menjadi pemasok utama pasar minyak nabati dunia, karena produktivitasnya lebih tinggi dibanding minyak nabati lainnya.
"Kebutuhan minyak nabati dunia pada 2020 diperkirakan mencapai 210 juta ton dan pada 2050 mencapai 365 juta ton," kata Direktur Jenderal Industri Agro Kementerian Perindustrian, Panggah Susanto, kepada pers di Jakarta, Kamis (9/3/2017).
Panggah menilai, pasar ekspor konvensional khususnya di wilayah Uni Eropa masih melakukan kampanye negatif terkait lingkungan dan hambatan perdagangan atas impor minyak sawit mentah (CPO) dan produk hilir asal Indonesia.
"Masalah ini perlu segera diatasi, tetapi di lain pihak, pasar non konvensional seperti negara di Asia Tengah, Asia Selatan, dan Eropa Timur yang tumbuh pesat perlu digarap lebih intensif," papar dia.
Industri kelapa sawit dari hulu sampai hilir merupakan salah satu sektor strategis yang memberikan kontribusi signifikan bagi perekonomian nasional, antara lain melalui kinerja nilai ekspor, penyerapan tenaga kerja, pemerataan kesejahteraan masyarakat, dan kontribusi pada penerimaan negara.
Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) sampai September 2016, tercatat nilai ekspor produk hilir sawit sebesar US$13.3 miliar atau telah melebihi nilai ekspor minyak dan gas bumi. (NEDELYA RAMADHANI/m)








