BORNEONEWS, Pangkalan Bun - Menteri Perusahaan Perladangan dan Komoditi Malaysia Datuk Seri Mah Siew Keong menyatakan akan kembali membawa isu harmonisasi bea keluar (BK) minyak sawit ke Dewan Negara Penghasil Minyak Sawit, yang juga mencakup Indonesia.

Seperti dikutip The Malaysian Reserve akhir pekan ini, Mah menegaskan bahwa pemerintah Malaysia serius untuk merevisi struktur bea keluar untuk minyak sawit, dengan berkonsultasi bersama Indonesia, menyusul anjloknya permintaan seiring dengan tingginya harga minyak sawit dalam beberapa bulan terakhir.

Untuk diketahui, Malaysia dan Indonesia menyumbang sekitar 90% produksi CPO global, dan Malaysia yakin bahwa ini vital bagi kedua negara untuk menjadi 'pengatur harga' ketimbang sebagai 'pengambil harga'.

Sebelumnya, Mah mengatakan bahwa dalam hal struktur bea keluar untuk minyak sawit, antara Malaysia dan Indonesia melihat hal ini masih menjadi masalah karena dari sisi struktur harga di kedua negara memiliki perbedaan.

“Kami telah mendapatkan banyak masukan dari para pemain di sektor hulu dan hilir terkait perbedaan struktur bea keluar. Itu tidak akan mudah. Kami berharap dapat membahas masalah ini lebih lanjut bersama Indonesia sebagai eksportir terbesar sementara kami adalah nomor dua," ungkap Mah.

“Dan kami berharap dapat mengharmonisasi struktur bea keluar CPO dari kedua negara. Kami tidak ingin bersaing dengan Indonesia, melainkan ingin bekerjasama dengan struktur harga standar," imbuhnya.

Adapun struktur bea keluar Malaysia hanyalah untuk CPO, sedangkan bea keluar yang diterapkan Indonesia mencakup berbagai produk. Bea keluar lebih tinggi untuk bahan baku dan lebih rendah untuk produk olahan. (NEDELYA RAMADHANI/m)