BORNEONEWS, Pangkalan Bun - Banyak analis komoditas internasional menilai langkah penerapan bea keluar terhadap minyak sawit mentah (CPO) sebagai langkah cerdas.

Salah satu analis terkemuka yang memberikan penilaian positif itu adalah Dr James Fry, yang juga chairman LMC International Ltd.

Menurut Fry, penerapan BK CPO tak memberatkan pengusaha sawit, malah justru sebaliknya. Itulah mengapa kebijakan ini tidak mendapat penolakan dari para pemain di industri sawit.

“Para produsen minyak sawit tidak keberatan dengan bea keluar itu. Dengan mengekspor CPO akan mendongkrak harga dunia melebihi bea keluar tadi. Tingginya harga CPO premium versus Brent, membuat mandatori pemakaian biodiesel lebih rendah. Tapi ketika harga CPO jatuh, maka mandatori biodiesel akan meningkat. Hal ini bekerja layaknya dana stabilisasi harga otomatis,” ucap Fry.

Pernyataan Fry itu diamini oleh salah satu pendiri dan CEO PT Triputra Agro Persada Group Arif P. Rachmat bahwa BK CPO itu tak mendapat tentangan dari pelaku industri.

Arif mengatakan pengumpulan dana BK CPO untuk CPO Fund (Badan Pengelola Dana Perkebunan Sawit) adalah sebuah hubungan industri dengan industri.

“Pembentukan CPO Fund untuk mensubsidi mandatori biodiesel telah membantu menaikkan harga CPO,” tuturnya, seperti dilansir The Malaysian Reserve akhir pekan ini.

Adapun keberadaan Badan Pengelola Dana Perkebunan Sawit atau CPO Fund selain mendukung mandatori pemakaian biodiesel, juga mendorong percepatan program peremajaan tanaman sawit (replanting) guna meningkatkan produktivitas.

Selanjutnya adalah untuk memudahkan para petani rakyat memperoleh sertifikat Indonesia Sustainable Palm Oil (ISPO), sehingga produk minyak sawit mentah Indonesia terbukti ramah lingkungan. (NEDELYA RAMADHANI/m)