BORNEONEWS, Pangkalan Bun - Mengacu pada fenomena El Nino pada 1997 dan 1998, produksi minyak sawit tumbuh tinggi pada tahun berikutnya.

Hampir 20 tahun kemudian, pakar industri sawit, James Fry, melihat pola yang hampir sama untuk pertumbuhan produksi menyusul fenomena El Nino yang terjadi pada 2015-2016.

Namun faktanya, pertumbuhan produksi minyak sawit bulanan dalam dua bulan terakhir lebih tinggi daripada yang terjadi pada periode yang sama pasca El Nino 20 tahun silam.

"Terkait cara pengukuran fenomena cuaca yang dilakukan, yaitu dengan menggunakan Oceanic Nino Index (ONI), fenomena pada 2015-2016 dramatis dalam hal magnitudonya seperti yang tercatat pada 1997-1998," kata Fry, seperti dilansir The Star akhir pekan lalu.

"Pada saat puncaknya, ketika El Nino terbaru berada dalam kondisi terburuk, pola itu benar-benar mirip dengan kejadian pada 1999," ujar Fry.

Sementara terkait dengan statistik, menurut Fry, kejadian pada 1997-1998 sangat mirip dengan yang terjadi tahun lalu.

Ia mengatakan bahwa pola adanya peningkatan tajam produksi setelah serangan El Nino tak hanya terjadi di Malaysia, tapi juga di Thailand dan Indonesia. (NEDELYA RAMADHANI/m)