BORNEONEWS, Pangkalan Bun - Kampanye hitam terhadap komoditas sawit Indonesia kembali dilancarkan Uni Eropa (UE).

Hal itu tergambar dari voting yang dilakukan parlemen UE yang hasilnya berdampak negatif terhadap produk sawit, yang pada akhirnya akan menghambat kinerja ekspor sawit Indonesia.

Parlemen Eropa menyatakan sawit merupakan penyebab deforestasi, degradasi habitat, masalah hak asasi manusia, standar sosial yang tidak patut, dan masalah tenaga kerja anak.

"Voting tersebut merupakan langkah politik yang tidak menghormati kerja sama Indonesia dengan UE, didasarkan pada laporan yang tidak benar. Ini merupakan bentuk kampanye negatif yang nyata dan sangat bernuansa kepentingan persaingan dagang," kata Ketua Umum Perhimpunan Ekonomi Pertanian Indonesia (Perhepi), Bayu Krisnamurthi, kepada pers di Jakarta, Senin (13/3/2017).

Bayu mendesak pemerintah melakukan langkah nyata melalui forum seperti Organisasi Perdagangan Dunia (WTO) untuk meminta perlakuan non diskriminatif.

Pemerintah harus menyiapkan langkah untuk melakukan pengaturan serupa bagi produk-produk impor, seperti kosmetik, susu/keju, anggur/wine, termasuk yang berasal dari Eropa, tutur Bayu.

Adapun voting yang dilakukan Komite Lingkungan, Kesehatan Masyarakat dan Keamanan Pangan UE itu menyatakan setuju dengan laporan yang diajukan tersebut. (NEDELYA RAMADHANI/m)