BORNEONEWS, Pangkalan Bun - Voting yang dilakukan Komite Lingkungan di Parlemen Eropa dinilai kian memperburuk citra minyak kelapa sawit di mata dunia.
Citra negatif terhadap sawit semakin kuat khususnya di kalangan masyarakat Eropa. Padahal Indonesia tengah membahas soal komoditas sawit dengan Uni Eropa dalam Comprehensive Economic Partnership Agreement (CEPA).
"Menteri Perdagangan menyampaikan perhatian bahwa informasi tersebut menciptakan persepsi minyak sawit mentah yang semakin buruk, meski baru dibahas di tingkat komite Parlemen Eropa," kata Direktur Jenderal Perundingan Perdagangan Internasional Kementerian Perdagangan (Kemendag), Iman Pambagyo, kepada pers di Jakarta, Senin (13/3/2017).
Iman menilai, hasil voting di parlemen UE tersebut ternyata baru diketahui oleh Komisioner Parlemen Uni Eropa untuk Perdagangan, Cecilia Malmstrom, yang bertemu dengan Mendag Enggartiasto Lukita pada ajang Asean Economic Minister (AEM) di Filipina.
"Malmstrom tampaknya baru tahu info ini dari Mendag dan akan segera cek ke Brussels. Namun, keputusan di tingkat Komite ini tidak atau belum punya kekuatan hukum sehingga belum ada tindakan apapun," papar dia.
Voting anggota Parlemen Eropa menyatakan sawit merupakan penyebab deforestasi, degradasi habitat, masalah hak asasi manusia, standar sosial yang tidak patut, dan masalah tenaga kerja anak.
Meskipun hasil voting tersebut masih akan diangkat dalam sidang pleno, 3 hingga 6 April mendatang, implikasi dari laporan tersebut bisa berdampak pada semakin sulitnya ekspor sawit ke Eropa.
Apalagi penggunaan minyak sawit dari program biodiesel di wilayah itu pada 2020 kemungkinan diperketat dengan diterapkannya satu sistem sertifikasi minyak sawit Eropa. (NEDELYA RAMADHANI/m)
Foto: Palmwatchafrica.org








