BORNEONEWS, Palangka Raya - Kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) yang terjadi di 2015 sangat membekas di pikiran warga Kalimantan Tengah. Bagaimana tidak, asap kala itu sampai-sampai berwarna kuning pekat.
Maka tak heran jika mendekati musim kemarau, setiap elemen pemerintahan seolah berlomba untuk mengimbau masyarakat untuk mewaspadai kabuat asap, tak terkecuali anak-anak.
"Permasalan gizi sama pentingnya bagi kesejahteraan anak, terutama menghadapi kemungkinan kabut asap terualang di 2017 ini," ungkap Tiur Simatupang, Kepala Dinas Pengendalian Penduduk, Keluarga Berencana, Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Kota Palangka Raya, Senin (13/3/2017).
Dikatakan mantan Kepala Dinas KesehatanPalangka Raya ini kebutuhan gizi dipengaruhi oleh faktor lingkungan. Semakin berbahaya lingkungan anak, maka semakin tinggi asupan nutrisi yang dibutuhkan. "Bila makanan tidak cukup sehat, maka pertumbuhan anak akan terganggu," tambahnya.
Pemenuhan gizi sejak dini, lanjut Tiur sangat diperlukan bagi jiwa sang anak, sehingga mereka akan kuat ketika menghadapi berbagai situasi, termasuk kabut asap akibat karhutla. (TESTI PRISCILLA/B-6)








