BORNEONEWS, Pangkalan Bun - Diperkirakan sekitar 80% energi global berasal dari bahan bakar fosil dan 13,8% dipasok dari bahan bakar terbarukan, termasuk biodiesel berbasis minyak sawit.

Pakar industri biodiesel, U.R. Unnithan, mengatakan biofuel cair hanya menyumbang 4,1% dalam porsi energi terbarukan dan tumbuh 10,4% dari 1990 hingga 2014, dibandingkan dengan fotovoltaik surya yang mencapai 46,2%.

Terkait program biodiesel B20 Indonesia, Unnithan mengatakan kebijakan tersebut mendorong peningkatan permintaan minyak sawit hingga 3 juta ton per tahun.

Keberhasilan implementasi program tersebut, telah mendongkrak naik produksi biodiesel dari 1,7 juta ton pada 2015 menjadi 3,3 juta ton pada 2016. Konsumsi biodiesel diperkirakan menyentuh angka 6 juta ton tahun ini.

Sedangkan industri biodiesel di Malaysia memiliki 17 pabrik pengolahan biodiesel, dengan total kapasitas terpasang sebesar 2,1 juta ton.

Ketika harga minyak mentah turun, pasar ekspor untuk biodiesel melorot dan banyak kapasitas pengolahan biodiesel tak terpakai, katanya seperti dikutip The Star.

Menurut dia, kebanyakan pemain di industri biodiesel mengoperasikan kapasitas utilisasi pabrik di bawah 25%.

“Ini hanya mencakup biaya variabel bukan biaya tetap. Jika mereka meningkatkan kapasitas menjadi hampir 100%, ini akan membuat mereka bisa meraup untung,” jelasnya.

Mengenai apakah industri biodiesel saat ini mengalami konsolidasi, Unnithan mengatakan sejumlah perusahaan yang kembang kempis diakuisi oleh perusahaan yang lebih besar dan memasukkan unit baru itu ke sektor hilir.

“Biodiesel jika berdiri sendiri bukanlah bisnis menguntungkan. Saya tidak melihat ada investasi besar di sektor ini,” ucapnya.

Untuk para pemain di sektor hilir minyak sawit, Unnithan berpendapat mereka harus fokus pada teknologi dan nilai tambah produk. Contohnya adalah menciptakan produk untuk pasar yang tak banyak pesaingnya, seperti nutraceuticals atau kimia hijau, yang memiliki marjin lebih besar dan volume rendah. (NEDELYA RAMADHANI/m)