BORNEONEWS, Medan - Gunarti, salah seorang perempuan aktivis dari Pati, Jawa Tengah, yang pernah ikut menyemen kakinya di depan Istana Negara, sebagai penolakan masuknya pabrik Semen Indonesia, hadir di arena kongres Aliansi Masyarakat Adat Nasional (AMAN) V di Kampong Tanjung Gusta.
Perempuan yang ternyata masuk dalam struktur kepengurusan Dewan AMAN Nasional, ini sudah hadir di Tanjung Gusta, sejak Selasa, (14/3/2017). "Melalui kongres ini saya akan berhenti jadi pengurus AMAN," ujar Mbak Gun, begitu ia akrab disapa, pada Borneonews, Selasa (14/3/2017).
Ia mengatakan, perjuangan masyarakat di sekitar Pegunungan Kendeng, yang meliputi wilayah kabupaten Pati, Rembang, Blora, belum berakhir. "Hari ini, sampai nanti Jokowi datang, teman-teman Kendeng masih memasung kaki di Istana," ujar perempuan dari komunitas Sedulur Sikep ini.
Ia berharap, AMAN dapat membantu setiap kesusahan masyarakat, meskipun bukan komunitas anggota AMAN. "Ayolah sama-sama bersolidaritas, entah itu bentuknya pikiran, tenaga, waktu, uang," ajaknya.
Mbak Gun menyatakan, perjuangan warga di sekitar Kendeng memang berat, tidak hanya menyangkut Komunitas Seduler Sikep atau yang biasa disebut masyarakat Samin.
Ia mengatakan, warga sudah membaur, ada yang Sedulur Sikep, dan yang bukan, karena itu harus bersama-sama. "Ini perjuangan tanah air," tegasnya. (BUDI BASKORO/B-5)








