BORNEONEWS, Sampit - Sungai Mentaya, di Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim) yang merupakan satu-satunya lintasan bagi kapal penumpang maupun barang dengan tujuan Pelabuhan Bagendang juga Pelabuhan Sampit, rupanya masih ada yang dangkal.  Sedikitnya, ada tiga titik di jalur ini yang dangkal dan rawan menyebabkan kapal kandas.

"Ada tiga titik kedangkalan di Sungai Mentaya, yakni di kawasan muara alur, Desa Serambut, dan juga kawasan Pos TNI AL," ujar Kepala Dinas Perhubungan Kotim Fadlian Noor, Kamis (16/3/2018).

Dengan adanya hal itu maka pengerukanpun dibutuhkan. Hal itu menghindari kandasnya kapal-kapal yang masuk ke daerah ini. Apalagi Sungai Mentaya merupakan akses utama menuju Pelabuhan Sampit, yang digunakan untuk terminal penumpang dan kendaraan. Selain itu ada juga Pelabuhan Bagendang yang dikhususkan untuk kargo atau kontainer.

"Aktivitas ekspor dan impor di Pelabuhan Sampit merupakan yang terbesar di Kalimantan Tengah (Kalteng). Sehingga kalau terjadi kanda, maka kapal akan mengalami keterlambatan sampai ke pelabuhan. Bahkan keterlamabatan bisa mencapai 11 jam hingga 25 jam, " kata Fadlian.

Untuk solusinya sendiri, paling tidak Kotim memilik kapal keruk untuk memperdalam beberapa titik tersebut. Kalaupun tidak bisa terealisasi, paling tidak menyewa kapal tersebut.


"Bisa juga konsorsium dengan perusahaan yang berminat," lanjut Fadlian.

Fadlian menjelaskan Sungai Mentaya yang panjangnya mencapai 400 kilometer dengan kedalaman rata-rata enam meter. Alur sungai ini dimanfaatkan untuk transportasi masyarakat, angkutan barang dan penumpang, mengangkut hasil tambang, kebun, perkayuan hingga bahan bakar. Sehingga sangat jarang alur sungai ini sepi dari lalu lintas kapal. (MUHAMMAD HAMIM/B-5)