BORNEONEWS, Pangkalan Bun - Hingga awal tahun ini, perdagangan kelapa sawit nasional semakin membaik dengan bertambahnya nilai ekspor dan juga negara tujuan ekspor.

"Memang ekspor untuk Crude Palm Oil (CPO) kita dari hulu ke hilir, semakin tambah permintaan dari negara-negara tujuan. Ada negara baru yang meminta, seperti Pakistan. Selama ini kita punya rancangan misi untuk menambah negara tujuan ekspor," kata Sekretaris Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (GAPKI) Sumut, Timbas Ginting, kepada pers di Jakarta, Jumat (17/3/2017).

Sejauh ini, menurut Timbas, parlemen di negara-negara Eropa ada yang melakukan pembatasan untuk impor sawit dari Indonesia. Namun tetap saja permintaan dunia usaha di sana masih tinggi.

"Walaupun parlemen di negara Eropa itu membatasi, tapi yang di bawahnya tetap meminta. Kalau di Eropa itu sekitar 15%, Afrika dan Amerika itu sekitar 3%, dan 80% lebih tetap di Asia," papar dia.

Sampai saat ini, lanjut Timbas, negara terbesar yang menjadi tujuan ekspor hasil kelapa sawit Indonesia masih didominasi Tiongkok dan India.

"Asia tetap terbesar, Tiongkok dan India paling banyak. Namun, adanya kampanye hitam di Uni Eropa, mendesak agar kita tetap mencari pasar baru" ujar Timbas.

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), nilai ekspor Indonesia mengalami peningkatan. Hal tersebut mengakibatkan neraca perdagangan pada Februari 2017 surplus sebesar US$1,32 miliar, satu di antaranya yang mendorong peningkatan adalah kelapa sawit. (NEDELYA RAMADHANI/m)