BORNEONEWS, Palangka Raya – Nekad menjadi modal Rido Fanmani untuk membudidayakan tanaman hidroponik di rumahnya Jalan Badak XII, Palangka Raya. Dalam perjalanannya, mantan pekerja bangunan yang gulung tikar sejak November 2016 lalu, bisa dikatakan sukses menggeluti hal tersebut.

“Terus terang saya modalnya nekad. Dulu, motor Supra lama milik saya, saya jual seharga Rp 1 juta. Itupun dibayar dua kali,” kata Rido, Sabtu (18/3/2017).

Dari hasil penjualan motor itu, Rido kemudian membeli 9 pipa sebagai sarana tanaman tanpa tanah tersebut. Karena prospek ke depan cukup menjanjikan, bapak tiga anak ini kemudian memutar otaknya untuk lebih serius mengembangkan usahanya.

“Kemudian saya berpikir kalau tidak ditekuni, sayang. Dan saya berpikir ini harus dikembangkan. Akhirnya saya juga nekad meminjam Rp 15 juta dari bank. Tetapi ternyata itu juga masih tidak mencukupi. Lalu saya mengembangkan lagi dengan memutar dari hasil penjualan ini,” terangnya.

Suami Binti Muslimah ini mengaku tidak memiliki latar belakang bercocok tanam dengan cara hidroponik. Menurutnya, 18 tahun ia bekerja di perkantoran swasta, tepatnya di kawasan Lapangan Golf, Jalan Tjilik Riwut Km 5, Palangka Raya. Pada 2011, dia berhenti. Lalu dia mencoba mengembangkan usaha warung tenda. Tapi hanya berjalan dua tahun.

Selanjutnya, Rido menjalani usaha dengan menjadi tukang bangunan. Akan tetapi, pekerjaan tersebut membutuhkan waktu dan tenaga yang besar. “Kemudian pada November 2016 saya berhenti dan menekuni bidang Hidroponik,” tuturnya. (BUDI YULIANTO/B-11)