BORNEONEWS, Pangkalan Bun - Upaya memindahkan beban listrik sebesar 2,5 Megawatt (Mw) dari Pangkalan Bun masuk ke sistem Sampit sudah mulai dilakukan Kamis (17/3/2017). Namun, belum terlihat adanya perubahan intensitas pemadaman listrik.

Sebaliknya, intensitas pemadaman listrik di Kabupaten Kotawaringin Barat (Kobar) kian bertambah. Bahkan, terjadi lebih dari dua kali pemadaman listrik di satu lokasi yang sama dalam sehari. "Contohnya Sabtu (18/3/2017) di tempat saya, jalur Jalan Bhayangkara dua kali mengalami pemadaman. Pertama sekitar pukul 08.00 WIB dan menyala sekitar pukul 15.00 WIB, eh pas saat azan Magrib listrik kembali padam," ujar Sari, ibu rumah tangga warga Desa Pasir Panjang Pangkalan Bun, Senin (20/3/2017).

Sebagai ibu rumah tangga kondisi tersebut sangat mengesalkan. "Saat itu saya baru saja memasak. Nasi belum sempat masak eh lisrik sudah padam. Kemudian air di tandon juga tidak sempat terisi penuh setelah dibersihkan sama suami," ujarnya.

Sebelumnya, Manager PLN Rayon Pangkalan Bun Drie Alsi Laksana menjelaskan, pemindahan daya beban Pangkalan Bun ke sistem Sampit merupakan upaya PLN untuk mengurangi pemadaman di Pangkalan Bun dan sekitarnya.

Menurutnya, daya mampu saat ini sebesar 22,66 MW, atau saat beban puncak terdapat defisit 8,001 MW. "Karena beban puncak Pangkalan Bun dan sekitarnya sebesar 30,661 MW. Jika hari ini sukses pindah beban 1,5 MW ke sistem Sampit, maka defisit listrik berkurang jadi 6,5 MW. Kemudian esoknya lagi kita kembali pindah 1 MW ke sistem yang sama, defisit listrik akan kembali turun menjadi 5,5 MW," jelasnya. (WAHYU KRIDA/B-2)