BORNEONEWS, Pangkalan Bun - Bagi Anda yang ingin merekonstruksi kejayaan Sungai Arut, Dermaga Pasar Lama (Indra Kencana I) Pangkalan Bun, Kabupaten Kotawaingin Barat (Kobar), Kalimantan Tengah bisa menjadi starting point untuk memulai perjalanan dan membayangkan bagaimana roda perekonomian di masa lalu berputar.

Pertama kali saya menapakkan kaki di dermaga tepian sungai yang membelah Kabupaten Kabupaten Kotawaringin Barat (Kobar) ini, saya langsung disambut langit berhias semburat jingga dan deretan rumah gedong kayu arsitektur khas negeri Tiongkok.

Meski usia rumah-rumah gedong itu sudah lebih dari satu abad, hunian orang keturunan negeri tirai bambu ini masih tampak kokoh berdiri di antara puluhan rumah warga lokal yang berderet di bantaran Sungai Arut.

Bayangan saya seketika buyar saat salah satu rekan dari Swisscontact mengajak saya menuju titian kayu tempat sandaran klotok (getek). Dia inilah yang menyatukan orang-orang dari berbagai latar belakang untuk belajar bagaimana menikmati sebuah perjalanan dan menuangkan ke dalam setiap paragrap.

Tidak hanya kalangan Jurnalis, Swisscontact juga mengajak para pelajar, pemandu wisata dan wirausaha untuk belajar menulis. Namun saya lebih enjoy dengan destinasi kunjungan yang telah diagendakan. Baiklah, kita tinggalkan dulu soal Swisscontact.

Sesampainya di sandaran klotok, para motoris telah menantikan kami untuk menaikinya. Satu per satu para rombongan bersiap menyusuri Sungai yang dulunya pernah menjadi urat nadi Kabupaten berjuluk Marunting Batu Aji (Wikipedia: Menuju Kejayaan).

Perjalanan dari Dermaga Pasar Lama kami mulai ke arah hulu sungai. Rumah gedong yang tadinya hanya saya saksikan dari seberang sungai, kini terlihat lebih jelas. Motoris sengaja memacu kelotoknya di sepanjang tepian sungai.

Sama halnya dengan warga yang tinggal di darat, mereka juga memiliki fasilitas MCK, kios, bengkel dan berbagai tempat untuk memenuhi kebutuhan mereka sehari-hari. Bedanya, fasilitas-fasilitas itu terapung di atas sungai.

Anak-anak terlihat bahagia saat berenang dan bermain bersama teman sebayanya, ibu-ibu mencuci, mandi dan memanfaatkan air sungai untuk memenuhi kebutuhan mereka sehari-hari. Bagitupun kaum pria yang tampak santai di pondokan-pondokan terapung sekadar mengobrol dan menikmati secangkir kopi.

Satu hal yang terus melekat dalam kepala saya, lambaian tangan mereka ke arah kelotok yang kami tumpangi sepertinya memiliki daya magis mendamaikan hati. Tulus dan tidak dibuat-buat.

Lepas dari pemukiman warga bantaran Sungai Arut, pandangan saya tertuju dengan aktivitas sejumlah petani keramba (budidaya ikan sungai) di sekitar jembatan Kelurahan baru, Kecamatan Arut Selatan. Tampak juga satu dua rumah makan apung di kedua sisi sungai.

Setelah melewati jembatan, kami putar arah kembali menuju dermaga Pasar Lama. Sampai di sana, kami melanjutkan perjalanan menuju arah hilir Sungai Arut. Aktivitas warga masih sama, terlihat bahagia dan sangat ramah.

Pemandangan berbeda ketika kami sudah meninggalkan pemukiman warga, rimbunnya pepohonan hijau di kedua sisi menyuguhkan pemandangan berbeda. Tampak juga beberapa kapal tongkang bersandar di sisi sungai.

Di tempat itu tidak ada lagi warga bantaran sungai yag menyambut, melainkan sekelompok monyet berbulu abu-abu berlarian di atas kapal tongkang, bahkan mereka tak sidikitpun merasa terganggu dengan kedatangan kami.

Beberapa puluh meter setelahnya, muncul sekawanan bekantan cokelat bergelantungan di antara pepohonan. Satu dua bekantan menampakkan diri dan akhirnya tidak terhitung lagi berapa jumlahnya. Dengan leluasa saya dan sejumlah rekan membidikkan kamera ke arah mereka.

Seringnya warga dan pengunjung yang melintas di tempat itu menjadikan para monyet dan bekantan lebih berani menampakkan diri. Pemandangan semacam inilah yang tak pernah didapatkan di bantaran sungai kota yang ada di Pulau Jawa. 

Puas menikmati pemandangan di sekitar Sungai Arut, kami kembali ke titik awal keberangkatan. Sampai di dermaga Pasar Lama, sejenak saya membayangkan kembali bagaimana urat nadi Kabupaten Kobar ini menjadi penggerak ekonomi bagi warga sekitar.

Untuk merekontruksi kejayaannya, pemandangan di bantaran Sungai Arut saya rasa masih relevan untuk bernostalgia dengan masa lampau. Lalu lalang klotok, bongkar muat barang di setiap dermaga, pengiriman barang melalui sungai dan aktifitas masyarakat yang sangat tergantung dengan keberadaan sungai.(FAHRUDDIN FITRIYA/B-2)