BORNEONEWS, Pangkalan Bun - Seusai menyusuri Sungai Arut yang berada di Kecamatan Arut Selatan, Kabupaten Kotawaringin Barat (Kobar) malah membuat saya lebih penasaran. Bagiamana dan seperti apa kehidupan masyarakat Kabupaten Kobar di masa lampau.

Beruntung saya mengenal salah satu pria yang di-tua-kan masyarakat sekitar. Pria paruh baya ini bernama Darmansyah. Tiga kali pernah menjabat sebagai anggota DPRD Kobar sepertinya cukup menjadi ukuran kapasitas beliau.

Setelah mengkuti pelatihan yang digelar Swisscontact, saya beranjak ke rumah Darmansyah. Dengan ramah, pria yang hingga kini masih aktif di berbagai organisasi ini mempersilakan saya masuk ke rumahnya.

Jujur saya tertarik dengan setiap detail cerita beliau tentang Sungai Arut. Namun, satu bahasan yang paling menyita perhatian adalah tentang rumah gedong milik orang keturunan Tionghoa yang berada di sisi Sungai Arut.

Syukurlah, Darmansyah memahami ketertarikan saya. Sambil merapikan pekerjaan merajut jaring penangkap ikan yang ia kerjakan sebelum kami berbincang, ia mengajak saya menuju bangunan yang tadi diceritakannya.

Berangkat dari dermaga di Kelurahan Mendawai, kami menuju Kelurahan Raja Seberang. Sampai di tujuan, matahari sudah menyelinap diantara rumah gedong dan pemukiman warga lokal menandakan waktu senja tiba. “Coba perhatiakan, semua rumah gedong menghadap Sungai Arut,” ucapnya.

Setelah saya mengamatinya, ternyata benar. Rumah panggung berbahan kayu ulin (kayu besi) yang bagian atasnya kental dengan ornamen khas arsitektur Tiongkok itu semuanya menghadap Sungai Arut.

Darmansyah melanjutkan, zaman dulu perkampungan pecinan berada di bagian seberang Sungai Arut (Kelurahan Mendawai Seberang dan Kelurahan Raja Seberang), berseberangan dengan wilayah perkembangan Kota Pangkalan Bun saat ini. Karena tidak ada jembatan yang menghubungkan antara pemukiman warga pecinan, mereka menggunakan perahu kecil dan klotok (getek) untuk mencapai pasar yang ada di seberang.

Menurut legenda Melayu, Sultan Kutaringin (Kotawaringin) sengaja menempatkan pemukiman warga keturunan Tionghoa di seberang sungai. Sebaliknya, menurut warga pecinan, pemukiman mereka lebih dulu ada sebelum Kesultanan Kutaringin berkuasa.

Sambil berbincang, kami menyusuri titian lorong pemukiman yang lebih mirip titian kayu menghubungkan satu pemukiman dengan pemukiman lainnya. Satu per satu saya amati rumah gedong berusia satu abad lebih ini, mulai dari detail bentuk bangunan hingga susunan bangunan tersebut.

Rumah tinggal warga pecinan itu terdiri dari dua deret sejajar dengan Sungai Arut. Deret pertama berada di atas dek perairan dan deret kedua berada di belakang deret pertama.

Rumah kayu yang berdiri di sepanjang sisi Sungai Arut itu dibangun dengan tinggi panggung mulai dua meter hingga tiga meter di atas permukaan sungai, tujuannya untuk menghindari banjir yang kerap terjadi setiap musim hujan.

Sekitar dua puluh menit kami berjalan, Darmansyah mengajak saya memasuki rumah gedong milik salah satu kenalannya. Sesaat mendengar salam Darmansyah, pemilik rumah bergegas menyambut kami. Tak kalah dengan keramahan Darmansyah, si empunya rumah langsung mempersilakan kami masuk.

Perbincangan antara Darmasyah dan pemilik rumah yang belakangan saya ketahui bernama Boo Eng, namun Darmansyah selalu menambahkan ‘Koh’ di depan namanya itu terlihat intim dan penuh kehangatan.

Melihat sikap mereka berdua, Darmansyah yang merupakan warga keturunan Dayak-Melayu dan Koh Boo Eng keturunan Tionghoa, mencerminkan kerukunan antaretnis di tengah masyarakat yang tinggal di bantaran Sungai Arut telah lama terbina.

Rumah yang dipenuhi perabot khas Tiongkok ini bukanlah rumah petak layaknya Rumah Betang milik orang Dayak (suku asli) Kalimantan atau rumah apung milik orang Melayu, sama sekali berbeda. Rumah-rumah orang pecinan terpisah antara rumah satu dengan rumah yang lainnya dengan atap miring (pitched roof).

Selain terpisah, ada perbedaan mencolok antara rumah-rumah yang berada di deretan pertama dengan rumah yang berada di deretan kedua. Rumah di deretan pertama tidak memiliki halaman, rumah itu langsung menghadap Sungai.

Sementara, rumah yang berada di deretan kedua mempunyai halaman, namun bukan tanah melainkan susunan lantai papan kayu yang cukup luas. Di halaman inilah orang-orang pecinan menghabiskan waktu luang untuk sekadar bercengkrama dengan warga lain yang bermukim di tempat itu.

Bersama Darmansyah dan Koh Boo Eng membuat waktu berjalan begitu cepat, waktu senja di Sungai Arut sebentar lagi akan berganti malam. Mendengar suara azan, kami bergegas menghabiskan secangkir teh yang disuguhkan tuan rumah.

Setelah menyeruput minuman, kami kembali merasakan keharmonisan kedua warga yang tinggal di bantaran Sungai Arut itu. Meski Koh Boo Eng beragama Kong Hu Cu, tanpa segan ia menawarkan tempat kepada Darmansyah untuk salat maghrib di rumahnya.

“Silakan Pak kalau mau salat dulu, nanti saya minta istri saya menyiapkan tempatnya,” ucap Koh Boo Eng penuh kehangatan.

Karena masjid di Kelurahan Raja Seberang hanya terletak empat rumah dari rumah Koh Boo Eng, Darmansyah lebih memilih salat berjamaah di masjid. “Terima kasih Koh, saya jamaah di masjid saja. Dekat kok,” ujar Darmansyah.

Setelah salat jamaah di Masjid, saya diajak Darmansyah ke sebuah kedai kopi. Tampak bulatan-bulatan cahaya bertaburan di seberang sungai tempat kami berada, Subhanallah... Luar biasa indah. Satu dua kelotok hilir mudik sangat padu dengan cahaya yang memantul dari Sungai Arut. (FAHRUDDIN FTRIYA/B-2)