BORNEONEWS, Pangkalan Bun - Pengalaman menikmati indahnya nuansa malam Sungai Arut, di Kecamatan Arut Selatan, Kabupaten Kotawaringin Barat (Kobar), Kalimantan Tengah, sungguh menakjubkan. Taburan cahaya di seberang sungai dan aktivitas warga, kontras dengan suasana teriknya mentari di siang hari, yang membakar kulit.

Saat berbincang dengan salah satu tetua Kelurahan Mendawai, Darmansyah, rasa penasaran saya berbuncah. Ia menceritakan siapa saja yang pernah lahir dan tumbuh besar di daerah itu. Salah satunya, Iwan Sunito. Banyak hal yang diuraikannya, mulai dari masa kanak-kanak Iwan Sunito, hingga kisah sukses raja properti Australia asal Pangkalan Bun (Ibukota Kobar) itu di kancah internasional.

Sama halnya dengan Koh Boo Eng dan warga keturunan Tionghoa lainnya, keluarga besar Iwan Sunito juga pernah tinggal di seberang Sungai Arut. Masa kanak-kanaknya hingga sekolah menengah dihabiskan di sini, di wilayah Bumi Marunting Batu Aji ini.

Dari buku biografinya diketahui, Iwan Sunito, pendiri Crown Group Holdings, salah satu perusahaan properti terbesar di Australia. Karya terbesarnya antara lain diberi nama, Oase by Crown Group di kawasan barat Sydney.

“Saya selalu terkenang masa lalu ketika bermain-main dengan orangutan di hutan Pangkalan Bun yang lebat,” tulis Iwan Sunito dalam buku biografinya.

Menurut Iwan Sunito, rimbunnya pepohonan hijau dengan sinar matahari yang menyelip di antara dedaunan hijau menciptakan perasaan magis mendamaikan hati. Suasana inilah yang menginspirasinya menciptakan Oase by Crown Group.

Bahkan, secara gamblang ia mengungkapkan, Oase by Crown Group adalah manifestasi dari beberapa kenangan masa kecilnya tentang sisi lain dari Pangkalan Bun. Lebih spesifik Iwan Sunito menyebut, kehidupan di Sungai Arut. Sungai yang membelah ibu kota Kabupaten Kotawaringin Barat, yang ketika itu airnya sangat jernih, tempat warga berburu udang, dan ikan air tawar.

Desain Oase by Crown Group yang visioner dibangun dengan menampilkan unsur alami, elemen organik termasuk atrium internal. Itu masih didukung cahaya alam melimpah, fitur air mengalir yang terpahat dan tanaman hijau nan rimbun.

Berkat karya-karyanya yang spektakuler itulah, Iwan Sunito berhasil menjadi Raja Properti di Australia. Berbagai penghargaan bergengsi telah diraihnya karena kesuksesannya.

“Jiplakannya saja sukses, sementara kita punya yang asli,” cetus Darmansyah, akhir pekan lalu.

Pria yang pernah menjadi guru Agama Islam itu menyebut Oase by Crown Group yang dibangun Iwan Sunito di negeri Kanguru tersebut, tiruan dari kehidupan di Sungai Arut, mestinya Pangkalan Bun layak mendapat kesuksesan lebih dibanding imitasinya di Australia.

Memperbincangkan program pemerintah pusat yang akan membangun bantaran Sungai Arut berkonsep ‘Waterfront City’, Darmansyah meminta instansi terkait melakukan kajian lebih mendalam. Ia tidak ingin, kultur dan budaya yang terbangun dari ruh-nya Sungai Arut itu rusak.

“Kami tidak menentang kemajuan zaman, tetapi sungai sudah seperti ibu dan hutan seperti ayah bagi kami,” sebutnya.

Darmansyah menyebut, sejarah adalah petunjuk untuk apa yang akan terjadi di masa depan. Bahwa masa lalu seseorang sewaktu dia dibentuk dan dibesarkan akan menentukan masa depan orang tersebut, dan Sungai Arut telah melahirkan seorang Iwan Sunito, juga kakaknya, Nisin Sunito, pengusaha yang tak kalah cemerlang dibanding sang adik.

Pengusaha Nisin Sunito, pemilik peternakan sapi seluas dua kali Pulau Bali di Australia sangat dikenal oleh kalangan pengusaha penggemukan sapi (feedloter) di Tanah Air. Pria yang menyelesaikan sekolah dasarnya di Pangkalan Bun itu, dianggap satu-satunya pengusaha asal Indonesia yang punya peternakan sapi di Australia. Sebelumnya, ada keluarga Bakrie, tetapi saat ini tidak lagi.

Nisin berasal dari Pangkalan Bun Kotawaringin Barat (Kobar), Kalimantan Tengah. Ia mulai merintis bisnisnya di Australia dengan mendirikan Oceanic Multitrading Pty Limited pada 1992. Ia lalu terjun ke bisnis peternakan setelah mengakuisisi peternakan Kiana, Juli 2005. Lokasi peternakannya berada 1.132 km tenggara Kota Darwin Australia.

Nisin membuka perwakilan bisnisnya di Indonesia melalui bendera Oceanic Indonesia. Oceanic melebarkan sayap usaha penggemukan sapi dan mengimpor sapi bakalan di Serang, Banten. Oceanic banyak mengekspor sapi ke negara-negara ASEAN di luar Indonesia. 

Menjelang waktu Isya, saya dan Darmansyah beranjak dari kedai kopi. Ia meminta saya menyalakan lampu blitz handphone dan mengarahkannya ke motoris kelotok yang saat itu berada di seberang sungai. Ternyata, yang saya lakukan ini merupakan kode untuk memanggil kelotok, yang segera mengantar kami menyeberang kembali ke Kota Pangkalan Bun. Unik. (FAHRUDDIN FITRIYA/N/Bersambung)