BORNEONEWS, Pangkalan Bun - Dalam perjalanan pulang saya tertarik dengan nama yang disematkan pada alat transportasi sungai, perahu ‘kelotok’. Kenapa disebut perahu kelotok, atau ada juga yang menyebut perahu getek, dan bagaimana perannya dari masa ke masa, sampai pelan tetapi pasti, mulai berkurang. Ya, senja kala nasib kelotok telah tiba.
Seperti biasa, Darmansyah yang sedari sore di akhir pekan lalu itu, menemani saya dengan gamblang menuturkan sejarah panjang perahu rakyat itu. Ia dan masyarakat setempat memberi nama kelotok karena dulunya perahu ini menggunakan mesin bersuara keras, dan terdengar seperti ‘klotok klotok klotok’.
Meski mesin-mesin perahu kelotok kini bersuara lebih halus, namun nama itu tetap melekat pada alat transportasi yang sempat menjadi primadona sebagian besar masyarakat Kabupaten Kotawaringin Barat dan secara luas masyarakat yang tinggal di Pulau Kalimantan.
Secara perlahan, perahu klotok beralih fungsi. Pada masa akses melalui jalan darat masih terbatas, alat transportasi sungai inilah yang menjadi penggerak ekonomi masyarakat. Mulai dari sarana angkutan manusia hingga sebagai angkutan barang.
“Dulu banyak kelotok dan kapal dagang (kelotok berukuran besar) singgah. Biasanya membawa barang dagangan dari Pulau Jawa dan Banjar (Banjarmasin, Kalimantan Selatan),” terang Darmansyah.
Setelah jalan darat dibangun, masyarakat dan para pedagang mulai enggan menggunakan perahu kelotok. Saat ini, mode transportasi itu hanya berfungsi sebagai alat penyeberangan sungai dan mengantar pengunjung untuk menyusuri sungai.
Tergerusnya fungsi perahu kelotok, antara lain ditandai dengan jumlahnya kini yang jauh berkurang, diakui Darmansyah sebagai konsekuensi perkembangan zaman. “Masih ada beberapa nelayan sungai yang menggunakannya, itu pun jumlahnya sangat sedikit.”
Sekitar tahun 1980-an, orang-orang dari luar Pangkalan Bun masih menumpang kelotok untuk berbelanja kebutuhan sehari-hari. Saat itu, Pasar Lama dan Pasar Saik (sayur dan ikan) paling ramai, dua lokasi inilah yang menjadi jantungnya perekonomian Kabupaten Kotawaringin Barat.
Karena dirasa sudah tak mampu menampung aktivitas ekonomi, Pasar Indra Sari di Kelurahan Baru dan Pasar Tembaga Indah, dibangun. Namun, kini kondisinya sudah jauh berubah. Terutama saat dibangunnya Pasar Indra Kencana II.
“Aktivitas sungai mulai bergeser ke darat, termasuk pembangunan pasarnya,” tutur Darmansyah.
Pergeseran aktivitas ekonomi ini jelas terlihat dengan sepinya dermaga-dermaga di Sungai Arut. Sama halnya dengan nasib kelotok, dermaga di sungai yang membelah Kabupaten Kotawaringin Barat itu beralih fungsi menjadi sekadar titik penyeberangan.
“Dulu seperti terminal, kini dermaga hanya berfungsi untuk penyeberangan warga dari Kota Pangkalan Bun ke Mendawai seberang,” ucapnya.
Dampaknya, seleksi alam bagi para motoris (pengemudi perahu kelotok) berlaku. Satu per satu pengemudi kelotok beralih profesi, meski masih ada yang memilih untuk bertahan. Rata-rata mereka beralasan sama, pendapatan sebagai motoris jauh menurun.
Beruntung, sebelum moda transportasi ini benar-benar ditinggalkan, dan hilang, saya masih merasakan sensasi menaiki perahu kelotok. Sudah dua kali saya menyusuri Sungai Arut menggunakan perahu rakyat itu, juga beberapa kali menyeberangi sungai menggunakan perahu yang terbuat dari kayu ini.
Orang yang hidup dan tinggal di bantaran Sungai Arut percaya, bagi siapapun yang telah meminum air dari Sungai Arut akan kembali lagi ke tempat ini. Bagi saya, percuma ke Kalimantan kalau belum naik perahu klotok.(FAHRUDDIN FITRIYA/N/Habis).








