BORNEONEWS, Pangkalan Bun - Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (GAPKI) memperkirakan volume ekspor minyak sawit nasional tahun ini mencapai 27 juta ton senilai US$18,90 miliar, naik tipis 1,7% dari realisasi tahun lalu.

"Tahun lalu, volume ekspor minyak sawit mencapai 26,57 juta ton setara US$18,59 miliar," kata Direktur Eksekutif GAPKI, Fadhil Hasan, kepada pers di Jakarta, Rabu (22/3/2017).

Fadhil menambahkan, permintaan komoditas perkebunan tersebut di pasar internasional belum terlalu agresif, bahkan Tiongkok sebagai salah satu pasar utama minyak sawit Indonesia cenderung mengerem impor, di sisi lain, pemulihan harga minyak sawit juga belum terlalu signifikan.

Produksi minyak sawit tahun ini, menurut Fadhil, akan lebih baik dari tahun lalu. Kondisi cuaca yang diprediksi normal akan mendorong produksi kembali seperti sebelum 2015.

"Produksi tahun ini normal, tapi ekonomi global belum terlalu pulih. Ekspor tahun ini sekitar 27 juta ton, baik minyak sawit mentah atau crude palm oil (CPO) maupun produk turunan hingga produk akhir, pada bulan Mei hingga Juni, produksi akan naik lagi, sehingga harga di pasar ekspor yang saat ini tinggi akan turun ke kisaran US$600 hingga US$650, rata-rata mungkin US$700 per ton," papar dia.

Dalam proyeksi yang pernah dipaparkan GAPKI, produksi minyak sawit nasional tahun ini diperkirakan mencapai 38,70 juta ton dengan rincian 35,50 juta ton CPO dan 3,20 juta ton palm kernel oil (PKO).

Peningkatan produksi terjadi karena dampak El Nino 2015 sudah menghilang dan adanya perkiraan Badan Meteorologi Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) bahwa tahun ini kondisi cuaca akan normal. Ditambah ada lahan sawit yang ditanam pada 2012 dan 2013 yang siap panen tahun ini. (NEDELYA RAMADHANI/m)