BORNEONEWS, Pangkalan Bun - Uni Eropa seperti tak bosan-bosannya bikin heboh dunia dengan selalu menyudutkan produk sawit.

Setelah mengangkat hasil penelitian dari Badan Pengawas Keamanan Eropa, EFSA, bahwa selai Nutella yang mengandung sawit berpotensi memicu kanker, kemudian anggota Parlemen Eropa, Komite Lingkungan, Kesehatan Masyarakat dan Keamanan Pangan melakukan voting terhadap nasib sawit asal Indonesia, pada 9 Maret 2017.

Dari 57 suara, sebanyak 56 suara sepakat bila sawit menyebabkan deforestasi, degradasi habitat, masalah hak asasi manusia, standar sosial yang tidak patut dan masalah tenaga kerja anak. Sedangkan 1 suara tidak sepakat demikian.

Semua itu bertentangan dengan apa yang diputuskan oleh Parlemen Eropa pada medio 2016 terkait laporan soal sawit dan deforestasi. Yang kemudian diikuti dengan sejumlah diskusi dan amandemen.

Selanjutnya pada Kamis, 13 Maret 2017, Komite Lingkungan Hidup, Kesehatan Masyarakat dan Keamanan Makanan Parlemen Eropa (ENVI) melakukan voting dan amandemen terhadap laporan oleh Parlemen Eropa, yang hasilnya memberikan pemahaman yang lebih berimbang dan berdasarkan fakta.

Terkait hal tersebut, European Palm Oil Alliance (EPOA) dalam laman resminya, Selasa (21/3/2017), mengatakan ada beberapa aspek yang dibahas sehubungan dengan sawit dan deforestasi.

ENVI, menurut EPOA, menempatkan deforestasi hutan tadah hujan dalam perspektif lebih luas dan memberikan catatan bahwa eksploitasi kelapa sawit bukan penyebab tunggal terjadinya penggundulan hutan.

Laporan tersebut menggarisbawahi tentang komitmen sektor swasta untuk mengakhiri deforestasi hingga 2020 (Deklarasi New York) dan menekankan pentingnya memperhatikan hak asasi manusia dan sosial serta mematuhi konvensi Organisasi Buruh Internasional.

ENVI mencatat upaya dan kemajuan yang dibuat industri pengolahan makanan untuk membeli minyak sawit tersertifikasi dan berkelanjutan (CSPO) dan mendesak semua sektor industri untuk menggunakan minyak sawit demi mendorong upaya menyerap produk CSPO.

Dari semua yang disebutkan di atas tadi tergambar bagaimana UE plin-plan dalam menyikapi soal sawit. Untuk itu, negara-negara anggota UE hendaknya meratifikasi Deklarasi Amsterdam yang mewajibkan pemakaian 100% minyak sawit berkelanjutan pada 2020.

Selain itu, diperlukan kerjasama dengan negara-negara penghasil sawit serta pembuatan kebijakan yang lebih koheren, sehingga ke depan tak ada lagi kampanye negatif terhadap sawit. (NEDELYA RAMADHANI/m)